Tanpa Kios Tetap, Kiram 35 Tahun Mengadu Nasib Jadi Tukang Servis di Bengkulu

Tanpa Kios Tetap, Kiram 35 Tahun Mengadu Nasib Jadi Tukang Servis di Bengkulu

BENGKULU, KOMPAS.com - Di sudut Pasar Panorama, Kota Bengkulu, Kiram (70) masih setia mengandalkan sepasang tangan dan peralatan sederhana untuk mencari nafkah.

Selama 35 tahun, ia bertahan sebagai tukang servis arloji, kacamata, hingga korek api Zippo, meski kini jasanya semakin tergerus perkembangan teknologi.

Siang itu, Kiram baru saja menyelesaikan perbaikan rantai arloji milik seorang remaja. Pekerjaan itu memberinya upah Rp 10.000.

Belum sempat beristirahat, pelanggan lain datang membawa korek api Zippo yang rusak. Hanya dalam beberapa menit, korek itu kembali menyala.

"Kalau Zippo tadi untuk biaya servis saya tidak matok harga, sukarela saja. Tapi dia beli bahan bakar untuk isi ulang Zippo maka saya patok Rp 50 ribu. Modal belinya Rp 45 ribu, saya hanya ambil untung Rp 5 ribu saja," kata Kiram.

Sebelumnya, ia juga telah memperbaiki gagang kacamata milik pelanggan lain.

Berbekal Obeng dan Kotak Aluminium

Kiram tidak memiliki kios tetap di pasar.

Seluruh peralatan kerjanya disimpan dalam sebuah kotak aluminium berukuran sekitar satu meter. Ketika ada lapak kosong, kotak itu diletakkan di sana. Jika tidak ada tempat, ia berpindah mencari ruang lain.

"Saya tidak punya lapak, jadi saya numpang saja. Kalau ada lapak kosong saya letakkan peralatan kerja. Kalau penuh, saya cari tempat kosong lagi," ujarnya.

Kemampuan memperbaiki jam tangan diperolehnya saat mengikuti kursus di Kota Padang, Sumatera Barat, ketika masih muda.

Hingga kini, ia mengaku masih mampu memperbaiki berbagai jenis jam, baik analog maupun digital.

"Jam dinding, jam tangan digital, analog, mudah-mudahan saya bisa perbaiki," ucapnya.

Bertahan di Tengah Persaingan

Perkembangan teknologi membuat pekerjaan Kiram tidak lagi semudah dulu.

Kini banyak jasa servis menggunakan peralatan modern, sementara dirinya tetap mengandalkan keterampilan manual.

"Servis kacamata sekarang ada alat canggih, arloji juga, bahkan Zippo juga begitu. Jadi jasa saya banyak saingannya, imbasnya pendapatan tidak menentu," ungkapnya.

Dalam sehari, ia terkadang memperoleh penghasilan sekitar Rp 100.000. Namun tidak jarang ia pulang tanpa membawa uang karena tak satu pun pelanggan datang.

"Kadang dapat uang, kadang sama sekali tidak dapat berhari-hari," katanya.

Meski demikian, Kiram memilih tetap bersyukur. Bersama istrinya yang berdagang pakaian dalam skala kecil di pasar, ia mengaku masih mampu memenuhi kebutuhan keluarga, termasuk membiayai pendidikan anak.

"Harus bersyukur dari usaha ini masih bisa buat makan dan biaya sekolah anak. Selebihnya biar Tuhan yang urus," pungkas Kiram.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang