Jerman Tuduh Eks Perwira Ukraina Dalangi Ledakan Pipa Gas Nord Stream

Jerman Tuduh Eks Perwira Ukraina Dalangi Ledakan Pipa Gas Nord Stream

Jakarta, CNN Indonesia --

Pengadilan Jerman mendakwa mantan perwira militer Ukraina dengan tuduhan terlibat dalam kejahatan perang, terkait ledakan pipa gas Nord Stream pada tahun 2022.

Jaksa mengajukan dakwaan terhadap seorang pria yang diidentifikasi sebagai Serhii K di pengadilan regional Kota Hamburg, Jerman, pada Kamis (2/7). Dia dituduh bertindak atas nama otoritas negara Ukraina.

Jerman menuduh tersangka sebagai bagian dari kelompok yang menyerang objek sipil, menyebabkan ledakan, menghancurkan infrastruktur, dan memicu gangguan layanan publik.

Serhii K. telah membantah keterlibatannya dalam serangan tersebut.

Menurut dakwaan Jerman, Serhii K. adalah seorang perwira di Angkatan Darat Ukraina pada 2022 dan memimpin tim penyelam, seorang kapten kapal, dan ahli bahan peledak ke Jerman dengan paspor Ukraina palsu pada September 2022.

Jaksa menuduh terdakwa dan timnya mengangkut bahan peledak kelas militer lewat perairan internasional ke daerah dekat pulau Bornholm di Denmark, sebelum memasangnya pada pipa-pipa di dasar Laut Baltik dan memasang sumbu waktu.

Menurut jaksa tujuan aksi itu adalah menghentikan secara permanen pengiriman gas lewat pipa-pipa tersebut, dan mencegah Rusia menggunakan pendapatannya dari perdagangan gas alam untuk perang.

Serhii K ditangkap di Italia pada Agustus dan dipindahkan ke Jerman pada November.

Pengadilan Jerman mengatakan kasus ini berada di bawah yurisdiksi mereka, karena pipa-pipa yang rusak berakhir di Lubmin di negara bagian Mecklenburg-Vorpommern dan memengaruhi keamanan energi Jerman.

Pihak berwenang Ukraina mengatakan tidak memiliki cukup informasi soal kasus itu untuk menanggapi tuduhan jaksa Jerman secara resmi.

Sementara itu Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky mengaku belum menerima rincian lengkap dakwaan tersebut.

"Pihak berwenang terkait di negara kita akan menghubungi, dan ketika kita menerima lebih banyak detail, kita mungkin dapat menanggapi. Untuk saat ini, masih terlalu dini untuk berbicara," ungkap Zelensky, dilansir Al Jazeera.

Ledakan Nord Stream terjadi pada September 2022, tujuh bulan setelah Rusia melancarkan invasi skala penuh ke Ukraina.

Ledakan itu merusak pipa Nord Stream 1 yang menjadi jalur penting ekspor gas Rusia ke Eropa. Cabang Nord Stream 2 juga rusak sebelum beroperasi.

Saat adanya dugaan serangan itu, Rusia menghentikan pengiriman gas ke Eropa lewat Nord Stream 1 dengan alasan sanksi Barat dan masalah teknis. Eropa sementara itu menuduh Rusia mempersenjatai pasokan energi.

Rusia dan sejumlah negara Barat menyebut serangan itu sebagai sabotase.