TANGERANG, KOMPAS.com - Kebakaran di Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Jatiwaringin, Kecamatan Mauk, Kabupaten Tangerang, yang memasuki hari keempat pada Jumat (3/7/2026), menarik perhatian warga sekitar.
Selain adanya helikopter penyiram air milik BNPB, ramainya video kebakaran yang viral di media sosial TikTok turut memicu kerumunan warga, terutama anak-anak, untuk datang ke lokasi.
Berdasarkan pantauan Kompas.com, sekelompok anak-anak terlihat berkumpul di beberapa titik. Mereka antusias mendongak ke langit, menyaksikan helikopter yang bolak-balik menyiramkan air ke arah kepulan asap di atas gunungan sampah.
Salah satu warga asal Cadas, Asmak (50), mengaku sengaja menempuh jarak sekitar 15 kilometer dari rumahnya untuk mengantarkan putranya yang berusia 10 tahun. Ia terdorong datang karena penasaran setelah melihat informasi kebakaran yang viral di media sosial.
"Ya, melihat situasi aja. Kan dengar informasi yang ada ramai di TikTok segala gitu, kan. Jadi saya penasaranlah gitu, kan," kata Asmak saat ditemui di lokasi, Jumat (3/7/2026).
Selain itu, Asmak juga menuruti keinginan anaknya yang ingin melihat langsung kepulan asap besar serta helikopter yang digunakan dalam proses pemadaman.
"Anak pengen tahu katanya gitu. Penasaran, katanya mau lihat helikopter. Katanya pemadamannya pakai helikopter segala informasinya, gitu," ungkap Asmak.
Hal serupa disampaikan Suhendi (68), warga Perumahan Griya Artha yang berjarak sekitar 3 kilometer dari TPA. Ia datang ke lokasi sambil mengawal dua cucunya beserta teman-teman mereka.
Suhendi mengatakan, anak-anak tersebut penasaran ingin melihat langsung proses penyiraman air oleh helikopter BNPB.
"Kan dia sekali lewat helikopter bawa air tuh. Ya kan pengen lihat cara nyiramnya gimana, apa ada orangnya, enggak, di dalam pesawat. Ya, udah, lihat. Biar pengalaman buat dialah (cucu)," ujar Suhendi.
Menurut dia, peristiwa ini tergolong langka sehingga memicu antusiasme anak-anak di lingkungannya.
"Ya, lihat sesuatu yang baru, yang jarang kejadian, gitu, lihat helikopter bawa air," tambahnya.
Meski anak-anak terlihat gembira, para orangtua tetap menyimpan kekhawatiran terhadap dampak asap dari kebakaran tersebut.
Asmak mengungkapkan, salah satu saudaranya yang tinggal sekitar 4 kilometer dari lokasi bahkan telah mengungsi karena mengalami gangguan pernapasan.
"Ya, kalau bisa secepatnya bisa ditanganilah gitu, ya. Kembali lagi kasihan warga juga ya yang kena dampaknya ini, asap ini, gitu kan. Ya karena polusi gitu kan," harap Asmak.
Suhendi pun berharap pemerintah daerah dan instansi terkait segera memadamkan api sepenuhnya agar aktivitas warga, termasuk sekolah anak-anak, dapat kembali normal.
"Ya, harapannya sih ya kita kasihan juga sama yang berdekatan ya. Mudah-mudahan cepat selesailah ini gimana baiknya pemerintah setempat gitu kan, ya. Biar cepat-cepat selesailah gitu. Kasihan kan yang sekolah kan jadi libur sekolah," tutur Suhendi.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarangNikmati Fitur Lengkap KARIN dengan KOMPAS.com PLUS
Dapatkan lebih banyak kuota, pahami berita lebih cepat, dan gali konteks mendalam dari artikel KOMPAS.com.