Bagaimana Uruguay Malah Gagal Total di Piala Dunia 2026?

Bagaimana Uruguay Malah Gagal Total di Piala Dunia 2026?

ilustrasi pertandingan (unsplash.com/igorvw)
  • Uruguay tersingkir di fase grup Piala Dunia 2026 setelah hanya meraih dua poin, tertinggal dari Spanyol dan Tanjung Verde meski tampil dominan dalam jumlah tembakan.
  • Serangkaian blunder fatal, terutama dari kiper Fernando Muslera dan lini belakang, membuat Uruguay kebobolan gol-gol krusial yang berujung pada hasil imbang dan kekalahan.
  • Hubungan retak antara Marcelo Bielsa dan pemain senior seperti Luis Suarez memperburuk suasana tim, dengan konflik internal mencapai puncaknya menjelang laga terakhir melawan Spanyol.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Uruguay gagal total di Piala Dunia 2026. Mereka tidak mampu untuk sekadar lolos dari fase grup. Tim asuhan Marcelo Bielsa itu hanya meraih dua poin seperti Arab Saudi dan duduk di bawah Spanyol (7 poin) serta peserta debutan, Tanjung Verde (3 poin). Lantas, apa penyebab dari hasil memalukan ini?

1. Produktivitas yang buruk

Produktivitas yang buruk menjadi penyebab pertama Uruguay gagal lolos dari fase grup di Piala Dunia 2026. Mereka cuma seri 1-1 dengan Arab Saudi pada pertandingan perdana. Padahal, La Celeste melepaskan 27 tembakan dengan 10 di antaranya mengarah ke gawang. Uruguay kemudian imbang 2-2 kontra Tanjung Verde pada laga kedua. Namun, efektivitas mereka sebetulnya lebih rendah meski mencetak gol lebih banyak. Dari total 17 percobaan, tidak ada sepakan tepat sasaran lain yang mereka buat di luar dua gol tersebut. Ironisnya, Tanjung Verde malah bisa meluncurkan 4 attempt on target dari 12 tendangan. Uruguay lantas kalah 0-1 dari Spanyol pada partai terakhir dengan expected goal hanya 0,20.

Namun, seretnya gol Uruguay di Piala Dunia 2026 sejatinya bukan hal yang mengejutkan. Mereka sudah mengalaminya setidaknya pasca-Copa America 2024. Sebelum ajang ini, Uruguay mampu mengemas 24 gol hanya dari 10 pertandingan. Sementara, setelah kompetisi tersebut sampai menjelang Piala Dunia 2026, Federico Valverde dan kolega cuma mencetak 14 gol dari 18 laga. Copa America 2024 merupakan titik balik Uruguay sejak dilatih Marcelo Bielsa pada Mei 2023. Mereka menjadi kandidat kuat juara usai menyingkirkan Brasil pada perempat final lewat adu penalti. Naas, Uruguay kalah 0-1 dari Kolombia pada semifinal. Selama Copa America 2024, Uruguay masih cukup produktif dengan 10 gol dari 5 kali beraksi.

2. Blunder yang mematikan

Kekalahan tidak dapat disematkan hanya kepada satu atau beberapa pemain. Namun, sulit untuk memungkiri kegagalan Uruguay di Piala Dunia 2026 dari sudut pandang defensif memang disebabkan faktor individu. Semua gol yang masuk ke gawang mereka merupakan blunder. Fernando Muslera kurang cermat dalam mengantisipasi sundulan Mohamed Kanno sehingga bola rebound bisa disontek Abdulelah Al-Amri dan berbuah gol bagi Arab Saudi. Muslera lantas tidak berdaya menghadapi tendangan bebas jarak jauh mendatar Kevin Pina kala melawan Tanjung Verde. Maxi Araujo dan Federico Vinasa juga lalai menjalankan tugasnya sebagai pagar betis.

Gol kedua Tanjung Verde ke gawang Uruguay kemudian berasal dari back pass ceroboh Mathias Olivera. Muslera keluar dari sarangnya untuk melakukan sapuan. Namun, Helio Varela berhasil melewatinya, mencetak gol pada sentuhan kedua setelah menggantikan Garry Rodrigues, dan mengubah skor menjadi 2-2. Terakhir, Muslera tidak mampu menangkap tendangan Alex Baena. Bola lepas dari tangannya dan mempersembahkan gol kemenangan untuk Spanyol. Blunder itu sampai membuat Muslera digantikan Sergio Rochet pada awal babak kedua. Namun, menurut Marcelo Bielsa, pergantian tersebut merupakan permintaan Muslera sendiri.

3. Konflik internal yang mencapi klimaks

Faktor terakhir yang membuat Uruguay hancur lebur di Piala Dunia 2026 adalah nonteknis. Ini terkait dengan hubungan antara Marcelo Bielsa dan para pemainnya yang dilaporkan tidak harmonis. Namun, Piala Dunia 2026 sebetulnya merupakan momen klimaks saja. Benih-benih konflik sudah ada sejak awal dan mulai keluar permukaan usai Copa America 2024 sebagai titik balik seperti yang telah disinggung di awal. Dilansir ESPN, Luis Suarez pernah secara terbuka mengkritik Bielsa yang enggan membangun relasi yang lebih personal dengan anak asuhnya. Suarez kemudian pensiun dari sepak bola internasional setelah Copa America 2024. Ia lantas siap untuk kembali jika memang dibutuhkan di Piala Dunia 2026, tetapi Bielsa tidak memanggilnya.

Menurut The Athletic, Federasi Sepak Bola Uruguay (UFA) sempat mempertimbangkan untuk memecat Bielsa usai kalah telak 1-5 dari Amerika Serikat pada jeda internasional November 2025. Namun, mereka mengurungkannya mengingat Piala Dunia 2026 yang cuma tinggal beberapa bulan. Uruguay kemudian imbang 1-1 dengan Inggris dan 0-0 versus Aljazair pada Maret 2026. Menariknya, Bielsa memutuskan tidak menggelar laga uji coba lagi. Metode kepelatihan seperti ini yang juga disebut tidak disetujui banyak pemain. Puncaknya, sejumlah penggawa senior dilaporkan meminta Bielsa mempertimbangkan ulang pendekatan taktik menjelang melawan Spanyol. Kabar tersebut menunjukkan sudah tidak adanya rasa saling percaya.

Berbagai faktor menyebabkan Uruguay gagal total di Piala Dunia 2026. Kini, UFA memiliki tugas besar untuk menemukan pengganti tepat bagi Bielsa. Mereka tentu tidak ingin skuad cukup berkualitas yang dimiliki tidak meraih apa-apa.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.