JAKARTA, KOMPAS.com - "Aku dikatain miskin".
Hinaan itu terus membekas dan menjadi luka yang tak terlupakan untuk Rina (12), remaja di Cilincing, Jakarta Utara.
Kalimat pahit itu justru didapatkan Rina dari teman-temannya ketika mengenyam pendidikan di SD negeri kawasan Kalibaru, Cilincing.
Teman yang seharusnya menjadi tempat bercerita dan bermain, justru mengikis semangat bersekolah dan menorehkan luka dalam untuk Rina.
Anak perempuan bertubuh mungil itu bercerita, ia dirundung hanya karena berjualan di sekolah demi bisa membantu perekonomian keluarga.
Sebab, Rina hanya tinggal bersama nenek dan ibunya yang hanya bekerja serabutan dan penghasilannya tak menentu.
Oleh karena itu, Rina berusaha mencari cara agar bisa mendapatkan uang sambil bersekolah yakni dengan berdagang kertas mewarnai seharga Rp 1.000 per satu lembar.
Sebagian murid tertarik membeli kertas mewarnai yang dijual Rina, sehingga ia bisa mendapatkan penghasilan sekitar Rp 10.000 hingga Rp 20.000 per hari.
Namun, sebagian siswa justru mem-bully Rina tanpa sebab yang pasti.
"Di-bully teman-teman aku dikatain miskin. Mereka bilang, 'lo ngapain sih jualan-jualan gitu, kayak orang miskin banget sih lo! Kayak enggak punya orangtua saja'," ujar Rina ketika ditemui Kompas.com di Kalibaru, Cilincing, Jakarta Utara, Jumat (3/7/2026).
Jarang masuk sekolah
Meski hampir setiap hari di-bully, Rina tak pernah menangis dan berusaha memendam semua lukanya sendiri.
Ia juga berkali-kali menjelaskan ke teman-temannya bahwa keputusannya berjualan demi membantu neneknya di rumah.
Dengan penjelasan itu, Rina berharap agar teman-teman sekolahnya mengerti dan tidak mem-bully lagi.
Namun, hujatan tersebut justru semakin parah dan intens didapatkan oleh bocah perempuan itu.
Hal itu lah yang membuat Rina seringkali malas untuk pergi ke sekolah.
Nikmati Fitur Lengkap KARIN dengan KOMPAS.com PLUS
Dapatkan lebih banyak kuota, pahami berita lebih cepat, dan gali konteks mendalam dari artikel KOMPAS.com.