Jakarta, Beritasatu.com - El Nino dan La Nina menjadi dua fenomena iklim yang semakin sering dibicarakan seiring perubahan pola cuaca yang makin sulit diprediksi. Keduanya kerap dikaitkan dengan musim kemarau yang lebih panjang maupun peningkatan curah hujan di berbagai wilayah Indonesia.
Perubahan cuaca akibat El Nino dan La Nina tidak hanya memengaruhi kondisi harian, tetapi juga berdampak pada sektor pertanian, ketersediaan air, hingga potensi bencana hidrometeorologi. Karena itu, kedua fenomena ini semakin mendapat perhatian masyarakat.
Lantas, apa sebenarnya perbedaan El Nino dan La Nina? Mengapa dua fenomena tersebut mampu mengubah pola cuaca secara signifikan dan memberikan dampak yang luas di berbagai wilayah, termasuk Indonesia?
Dalam ilmu klimatologi, El Nino dan La Nina merupakan bagian dari El Niño-Southern Oscillation (ENSO), yakni anomali suhu permukaan laut di Samudera Pasifik yang memengaruhi sirkulasi atmosfer serta distribusi curah hujan di berbagai belahan dunia.
Mengenal Tiga Fase ENSO yang Memengaruhi Iklim
Menurut Climate Early Warning System Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), kondisi iklim di Samudera Pasifik berlangsung dalam tiga fase utama, yaitu netral, El Nino, dan La Nina. Masing-masing fase memiliki karakteristik yang berbeda sehingga menghasilkan dampak yang berbeda pula terhadap cuaca.
1. Fase netral
Pada fase netral, angin pasat bertiup stabil dari arah timur menuju barat. Tiupan angin tersebut mendorong massa air hangat menuju Pasifik bagian barat, termasuk wilayah Indonesia.
Kondisi ini membuat suhu permukaan laut di Indonesia cenderung lebih hangat dibandingkan Pasifik timur. Dampaknya, curah hujan di Indonesia relatif stabil karena pembentukan awan berlangsung secara normal.
2. Fase El Nino
Saat memasuki fase El Nino, angin pasat melemah, bahkan dalam kondisi tertentu dapat berbalik arah. Akibatnya, air hangat yang sebelumnya terkumpul di sekitar Indonesia bergeser menuju Pasifik bagian tengah dan timur.
Perubahan posisi air hangat ini menyebabkan pusat pembentukan awan ikut berpindah. Dampaknya, wilayah Indonesia menerima lebih sedikit hujan sehingga curah hujan menurun dibandingkan kondisi normal.
2. Fase La Nina
Berbeda dengan El Nino, fase La Nina ditandai menguatnya angin pasat. Kondisi tersebut mendorong lebih banyak air hangat menuju Pasifik bagian barat, termasuk Indonesia.
Akibatnya, pembentukan awan meningkat dan curah hujan di Indonesia menjadi lebih tinggi daripada biasanya.
Apa Itu El Nino?
El Nino merupakan kondisi ketika suhu permukaan laut di Samudera Pasifik bagian tengah dan timur lebih hangat dibandingkan kondisi normal.
Istilah ini berasal dari bahasa Spanyol yang berarti anak laki-laki dan merujuk pada fenomena arus laut hangat yang muncul menjelang Natal di pesisir Peru dan Ekuador.
Fenomena ini termasuk anomali iklim berskala global. Ketika suhu laut di Pasifik timur meningkat, distribusi uap air serta proses pembentukan awan ikut mengalami perubahan.
Awan hujan yang umumnya terbentuk di wilayah Indonesia bergeser ke kawasan Pasifik bagian tengah. Kondisi tersebut membuat Indonesia lebih rentan mengalami penurunan curah hujan ketika El Nino berlangsung.
Dampaknya tidak hanya terbatas pada berkurangnya hujan. Kekeringan dapat meluas ke berbagai sektor, mulai dari lahan pertanian yang mengering, berkurangnya cadangan air, hingga meningkatnya risiko kebakaran hutan.
Salah satu kejadian El Nino yang kuat tercatat pada 1997. Saat itu, sebagian besar wilayah Indonesia mengalami penurunan curah hujan secara drastis.
Meski demikian, El Nino bukan berarti hujan berhenti sepenuhnya. Pada periode tertentu, seperti akhir tahun hingga awal tahun berikutnya, hujan masih dapat terjadi meskipun jumlahnya berada di bawah kondisi normal.
Apa Itu La Nina?
La Nina merupakan kebalikan dari El Nino. Fenomena ini terjadi ketika suhu permukaan laut di Samudera Pasifik bagian tengah dan timur lebih dingin dibandingkan kondisi normal.
Pendinginan tersebut memperkuat sirkulasi atmosfer, termasuk Sirkulasi Walker yang berperan penting dalam proses pembentukan awan di wilayah Indonesia.
Saat La Nina berlangsung, Indonesia menerima pasokan uap air yang lebih banyak. Kondisi ini membuat pembentukan awan hujan semakin intens sehingga curah hujan meningkat secara signifikan.
Dalam banyak kasus, peningkatan curah hujan dapat mencapai sekitar 20 hingga 40 persen di atas kondisi normal. Dampaknya, sejumlah wilayah di Indonesia menjadi lebih rentan mengalami banjir, tanah longsor, serta berbagai cuaca ekstrem lainnya.
Peristiwa La Nina kuat pernah terjadi pada 2010. Fenomena tersebut menyebabkan curah hujan sangat tinggi di berbagai daerah, seperti Jawa, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan, dan Sulawesi.
Sama seperti El Nino, La Nina juga tidak menghilangkan musim sepenuhnya. Musim kemarau tetap berlangsung, tetapi intensitas hujan lebih tinggi sehingga sering disebut sebagai kemarau basah.
La Nina
Super El Nino
Cuaca Eksrem
Musim Kemarau
Apa Bedanya El Nino dan La Nina?
Perbedaan utama El Nino dan La Nina terletak pada perubahan suhu permukaan laut di Samudera Pasifik serta kekuatan angin pasat yang menyertainya.
Pada El Nino, suhu permukaan laut di Pasifik bagian tengah dan timur menjadi lebih hangat. Pelemahan angin pasat membuat pusat pembentukan awan bergeser dari Indonesia menuju Pasifik tengah sehingga curah hujan di Indonesia berkurang.
Sebaliknya, La Nina ditandai dengan suhu permukaan laut yang lebih dingin di kawasan yang sama. Angin pasat yang menguat mendorong lebih banyak air hangat ke wilayah Indonesia, meningkatkan pembentukan awan dan curah hujan.
Perbedaan tersebut kemudian memengaruhi pola hujan musiman. Pada periode Juni hingga November, El Nino umumnya menyebabkan penurunan curah hujan di sebagian besar wilayah Indonesia. Sementara itu, La Nina justru meningkatkan curah hujan pada periode yang sama.
Saat memasuki musim hujan, pengaruh kedua fenomena tersebut masih dapat dirasakan, meskipun besarnya dampak juga dipengaruhi faktor lain, termasuk angin monsun.
Memahami perbedaan El Nino dan La Nina membantu masyarakat mengenali perubahan pola cuaca yang dapat terjadi sewaktu-waktu. Pengetahuan tersebut juga menjadi bekal untuk meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi potensi kekeringan, banjir, maupun cuaca ekstrem sesuai karakteristik masing-masing fenomena.