Skakmat Penat di Bawah Beton: Kisah Komunitas Catur Kolong Tol Tanjung Priok Jakut

Skakmat Penat di Bawah Beton: Kisah Komunitas Catur Kolong Tol Tanjung Priok Jakut

JAKARTA, KOMPAS.com - Deretan meja berdiri di bawah kolong Tol Ir Wiyoto Wiyono, Sungai Bambu, Tanjung Priok, Jakarta Utara. Di atasnya tersusun papan-papan catur yang menjadi pusat perhatian sejumlah warga pada Rabu (24/6/2026) siang.

Empat meja berjajar di lokasi tersebut. Masing-masing memiliki tiga papan catur. Saat itu, tiga papan tengah dimainkan.

Di salah satu meja, beberapa orang tampak mengelilingi dua pria yang sedang memainkan bidak catur. Keduanya menggerakan bidak masing-masing dengan sesekali berpikir mengenai langkah selanjutnya.

Bagi sebagian warga, kolong tol itu bukan sekadar ruang kosong di bawah jalan layang. Tempat tersebut telah menjadi ruang berkumpul, berbincang, sekaligus bermain catur selama bertahun-tahun.

"Awalnya sih kita cuman hanya kumpul-kumpul. Awal pertama itu kita main catur iseng. Lama-lama berkembang, banyak yang ngeliatin, akhirnya udah kumpul, kita beli catur," kata Junaidi (55) kepada Kompas.com, Rabu.

Berawal dari Permainan Iseng

Junaidi merupakan salah satu warga yang mengikuti perkembangan komunitas tersebut sejak awal. Menurut dia, kegiatan bermain catur di lokasi itu sudah berlangsung sejak sekitar 2015.

Para pemain kemudian mengumpulkan uang secara patungan untuk membeli papan dan bidak catur. Ada pula warga yang menyumbang meja untuk digunakan bersama.

"Lama-lama ada lagi orang-orang yang berminat, ya ini bikin meja. Ada yang punya rezeki nyumbang bikin meja sama dia," ujarnya.

Komunitas itu kini menjadi tempat berkumpul bagi para pecatur dari berbagai wilayah sekitar. Mereka saling mengenal dan kerap bertemu dalam berbagai kegiatan atau turnamen catur.

Menurut Junaidi, aktivitas di bawah kolong tol berlangsung hampir setiap hari, terutama saat akhir pekan dan hari libur.

"Tiap hari. Apalagi malam Minggu, malam Sabtu, libur-libur orang kerja, di sini rame. Hari libur tanggal merah, rame," kata dia.

Meski begitu, bidak catur yang dulu disediakan kini sebagian besar sudah tidak ada.

Junaidi menjelaskan, perlengkapan yang ditinggalkan di lokasi terbuka satu per satu hilang sehingga para pemain kini lebih sering membawa perlengkapan masing-masing.

Mengisi Waktu Setelah Bekerja

Bagi Dedi Kurniawan (30), komunitas catur di bawah kolong tol menjadi tempat untuk melepas penat setelah beraktivitas.

Warga Jalan Bugis, Tanjung Priok, itu mengaku hampir setiap hari datang ke lokasi setelah menyelesaikan pekerjaan.

Nikmati Fitur Lengkap KARIN dengan KOMPAS.com PLUS

Dapatkan lebih banyak kuota, pahami berita lebih cepat, dan gali konteks mendalam dari artikel KOMPAS.com.