KOMPAS.com – Ramainya pembahasan kasus kekerasan di media sosial kerap diiringi dengan munculnya komentar yang justru menyalahkan korban atau victim blaming.
Tidak sedikit warganet mempertanyakan keputusan korban, mulai dari alasan tetap bertahan dalam hubungan yang tidak sehat hingga mengapa tidak segera melapor.
Padahal, komentar semacam ini dapat memperburuk kondisi psikologis korban.
Psikolog klinis Gisella Tani Pratiwi, M.Psi, Psikolog, mengatakan bahwa masyarakat perlu mengedepankan empati ketika menyikapi kasus kekerasan, terutama yang ramai diperbincangkan di media sosial.
Menurut Gisella, publik tidak mengetahui secara utuh situasi yang dialami korban.
Karena itu, penting untuk memastikan bahwa setiap respons yang diberikan tidak menambah beban bagi mereka.
"Tindakan baik, seperti berkomentar atau apa pun, minimal tidak memperparah kondisi korban," ujar Gisella, dikutip dari Antara, Senin (6/7/2026).
Lantas, bagaimana cara menghindari victim blaming saat melihat kasus kekerasan di media sosial?
Cara Menghindari Victim Blaming Menurut Psikolog
1. Pikirkan ulang sebelum berkomentar
Langkah pertama yang disarankan Gisella adalah tidak terburu-buru meninggalkan komentar.
Sebelum mengirimkan tanggapan, luangkan waktu untuk membaca kembali kalimat yang telah ditulis.
Dengan begitu, seseorang dapat menilai apakah komentarnya pantas disampaikan atau justru berpotensi menyakiti korban.
Menurutnya, kebiasaan sederhana ini dapat membantu mengurangi munculnya komentar yang bernada menyalahkan korban.
2. Cobalah melihat dari sudut pandang korban
Gisella juga mengajak masyarakat untuk membayangkan diri berada di posisi korban sebelum memberikan penilaian.
Tanyakan pada diri sendiri apakah komentar yang akan disampaikan benar-benar dapat membantu atau justru memperburuk keadaan.
Dengan menempatkan diri pada perspektif korban, seseorang cenderung lebih berhati-hati dalam memilih kata dan lebih mampu menunjukkan empati.