Monyet Ekor Panjang Turun ke Telaga Ngebel karena Kelaparan, Warga Diimbau Tak Beri Makan

Monyet Ekor Panjang Turun ke Telaga Ngebel karena Kelaparan, Warga Diimbau Tak Beri Makan

PONOROGO, KOMPAS.com – Ratusan monyet ekor panjang (Macaca fascicularis) kembali turun ke kawasan wisata Telaga Ngebel, Kabupaten Ponorogo, Jawa Timur, pada musim kemarau.

Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Jawa Timur menyebut satwa liar itu keluar dari habitatnya karena ketersediaan pakan di hutan berkurang.

Kepala Seksi KSDA Wilayah II Balai Besar KSDA Jawa Timur Gatot Kuncoro Edy mengatakan, fenomena tersebut merupakan siklus yang hampir terjadi setiap musim kemarau.

"Sebenarnya fenomena tahunan. Memang pada musim-musim kemarau ini makanan di hutan berkurang," ujar Gatot saat dihubungi melalui sambungan telepon, Sabtu (18/7/2026).

Menurut dia, kawanan monyet turun dari habitatnya di kawasan RPH Ngebel, TKPH Wilis Barat, untuk mencari sumber makanan di sekitar kawasan wisata.

BKSDA Minta Warga Tak Memberi Makan

Meski turun mencari makan, BKSDA mengimbau masyarakat dan wisatawan tidak memberi makan kawanan monyet.

Gatot menjelaskan, kebiasaan memberi makan justru akan mengubah perilaku satwa liar sehingga terbiasa mendatangi kawasan wisata maupun permukiman setiap kali mencari makanan.

"Kami telah memantau. Dan kalau saran kami malah jangan diberi makan," katanya.

Selain itu, masyarakat juga diminta tidak mendekati kawanan monyet karena berpotensi membahayakan.

"Jangan dibiasakan diberi makan. Nanti mereka terbiasa datang ke sana. Masyarakat juga jangan mendekati karena bisa membahayakan," tegas Gatot.

Belum Ada Laporan Serangan

Hingga kini, Balai Besar KSDA Jawa Timur belum menerima laporan adanya serangan ataupun kerusakan yang ditimbulkan kawanan monyet terhadap warga.

Menurut Gatot, kemunculan satwa tersebut murni dipicu berkurangnya ketersediaan pakan alami selama musim kemarau.

Sementara itu, warga Ngebel, Kepri, mengatakan kemunculan monyet di kawasan Telaga Ngebel sudah menjadi fenomena yang sering terjadi saat musim kemarau.

"Kalau makanan habis pasti turun. Ini kan kemarau. Di gunung atau hutan makanannya habis, makanya turun ke sini (Ngebel)," katanya.

 

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang