JAKARTA, KOMPAS.com – Tren elektrifikasi kendaraan dan kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi mulai memengaruhi pasar mobil diesel di Indonesia.
Meski demikian, Auto2000 menilai permintaan mobil diesel Toyota masih tergolong kuat karena didukung karakter produk yang tangguh, irit, dan memiliki nilai jual kembali yang tinggi.
Berdasarkan catatan Auto2000, sepanjang Januari-Mei 2026 penjualan ritel mobil nasional mencapai 359.490 unit atau naik 8,8 persen secara year on year (YoY).
Toyota Fortuner 2.8L
Di tengah pertumbuhan tersebut, pangsa pasar mobil diesel turun menjadi 19,3 persen dari sebelumnya 20,4 persen.
Sebagai gambaran, pada 2025 pangsa pasar mobil diesel di wilayah Jawa mencapai 23,1 persen, sedangkan di luar Jawa bahkan menembus 34 persen.
Diesel Toyota Bertahan
Chief Marketing Auto2000 Yagimin mengatakan, minat terhadap mobil diesel masih cukup tinggi di sejumlah wilayah Indonesia.
Menurut dia, karakter mesin diesel yang dikenal tangguh, hemat bahan bakar, serta memiliki harga jual kembali yang baik masih menjadi alasan utama konsumen memilih kendaraan tersebut.
"Jadi memang ada wilayah-wilayah tertentu yang secara kebutuhan untuk mobil diesel, dan animonya juga masih kuat karena secara mindset, ya diesel itu kendaraan tangguh, handal, irit dan juga resale value-nya bagus,” ujar Yagimin di Jakarta (27/6/2026).
“Nah, itu masih menjadi dasar yang kuat gitu lho. Kenapa diesel itu memang masih cukup menjadi favorit," kata dia.
Ia menjelaskan, hingga Mei 2026 komposisi mobil diesel masih berada di kisaran 19 persen, termasuk kendaraan komersial.
Toyota sendiri masih memiliki lini kendaraan diesel yang cukup lengkap, mulai dari Fortuner, Innova Reborn, Hilux Double Cabin, Hilux Single Cabin, Rangga Diesel, Land Cruiser, HiAce, hingga Dyna.
Konsumen Menunggu
Meski mengakui penjualan mobil diesel mengalami penurunan, Yagimin menegaskan kondisinya belum signifikan. Menurutnya, sebagian konsumen hanya memilih menunda pembelian sambil menunggu perkembangan harga BBM nonsubsidi.
"Sebenarnya kalau dibilang menurun, iya pasti ada penurunan, tapi enggak signifikan. Karena memang konsumen Toyota itu juga beberapa yang memang sudah memutuskan untuk membeli,” ucap Yagimin.
“Ya mungkin ada yang postpone gitu ya sampai menunggu situasi, mungkin salah satunya bahan bakar itu, apakah harganya nanti akan kembali ke normal," ujarnya.
Yagimin menambahkan, kenaikan harga BBM dipicu faktor eksternal sehingga diharapkan dapat kembali stabil ketika kondisi tersebut membaik.
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app