Kita Perlu "Bodo Amat"

Kita Perlu "Bodo Amat"

SETIAP membuka media sosial, kita seperti memasuki ruang gawat darurat politik tak pernah tutup.

Ada menteri yang dipersepsikan tak paham bidangnya, komisaris dianggap memperoleh jabatan karena kedekatan keluarga atau politik, serta program-program besar yang diluncurkan dengan tergesa-gesa dan minim penjelasan.

Belum satu kontroversi selesai, muncul kegaduhan berikutnya. Mengabaikan semua itu tentu bukan pilihan bijak.

Demokrasi membutuhkan warga yang berani mengawasi kekuasaan. Kritik, petisi, protes, bahkan demonstrasi adalah bagian sah dari upaya menjaga republik.

Ketika prosedur dipotong, meritokrasi dilemahkan, atau kritik diadang, diam justru dapat berubah menjadi persetujuan.

Namun, ada pertanyaan lain yang jarang kita ajukan: berapa banyak energi mental yang harus kita serahkan kepada berbagai kegaduhan politik dan inkompetensi kebijakan itu?

Bagi anak muda Indonesia, mungkin sudah waktunya mempraktikkan “bodo amat” dalam pengertian yang lebih produktif.

Bukan bodo amat yang pasif, sinis, dan menyerah, melainkan bodo amat yang proaktif dan optimistis: kemampuan memilih hal mana yang sungguh layak mendapatkan perhatian, tenaga, dan keberanian kita.

Gagasan ini dekat dengan argumen Mark Manson (2016) dalam The Subtle Art of Not Giving a F*ck: A Counterintuitive Approach to Living a Good Life.

Manson tak mengajak pembacanya menjadi manusia yang tidak peduli pada apa pun.

Ia justru mengingatkan, perhatian kita terbatas. Karena itu, kita harus memilih secara sadar nilai dan perjuangan benar-benar penting.

Seni ‘tidak peduli’ atau ‘bodo amat’ sesungguhnya adalah seni untuk peduli secara lebih selektif dan mendalam.

Masalahnya, ekonomi perhatian digital bekerja dengan logika sebaliknya. Ia membuat semua hal terasa mendesak.

Satu penunjukan komisaris BUMN yang kontroversial dapat memenuhi linimasa berhari-hari.

Satu pernyataan pejabat inkompeten yang tak masuk akal dapat memancing ribuan komentar, video reaksi, dan perdebatan. 

Kemarahan memang kadang diperlukan, tapi kemarahan yang diproduksi tanpa henti dapat membuat kita merasa aktif, padahal sebenarnya energi kita terkuras.

Di sinilah bodo amat boleh jadi tindakan politik yang strategis. Kita menolak membiarkan kegaduhan menentukan seluruh agenda hidup kita.

Kita tetap mengkritik, tetapi tidak harus mengikuti setiap episode dramanya.

Kita tetap turun tangan ketika batas-batas etika dan demokrasi dilanggar, tetapi tak menyerahkan seluruh kewarasan kepada mereka yang justru memperoleh keuntungan dari perhatian publik.

Berbagi Peran dan Perhatian

Baru-baru ini, saya berbincang dengan kawan saya, Ai Nurhidayat. Ia bercerita dengan antusias tentang SMK Bakti Karya Parigi yang tengah menyambut tahun ajaran baru.