KOMPAS.com - Banyak orang mengira kesepian hanya dirasakan ketika seseorang hidup sendiri atau jarang berinteraksi dengan orang lain.
Padahal, seseorang tetap bisa merasa kesepian meski setiap hari berada di tengah keluarga, teman, atau lingkungan kerja yang ramai.
Fenomena ini dikenal sebagai emotional loneliness atau kesepian emosional, yaitu kondisi ketika seseorang merasa tidak benar-benar dipahami, didengar, atau memiliki hubungan yang bermakna dengan orang lain.
Temuan ini juga muncul dalam penelitian lintas negara yang dipublikasikan oleh Psychology Today.
Melalui wawancara terhadap masyarakat di delapan negara, termasuk Maroko, para peneliti menemukan bahwa banyak orang mengalami kesepian meski hidup di lingkungan yang sangat komunal dan memiliki interaksi sosial yang padat.
Kesepian bukan soal jumlah orang di sekitar
Penelitian tersebut menunjukkan bahwa banyaknya orang di sekitar seseorang tidak otomatis membuatnya merasa terhubung secara emosional.
Dalam budaya yang menjunjung tinggi kebersamaan, seseorang bisa menghadiri acara keluarga, berkumpul dengan teman, atau berinteraksi setiap hari, tetapi tetap merasa tidak ada yang benar-benar memahami perasaannya.
Sejumlah responden menggambarkan kesepian sebagai kondisi ketika mereka "terlihat hadir", tetapi merasa tidak benar-benar "dilihat" oleh orang lain.
Dengan kata lain, kualitas hubungan jauh lebih penting dibandingkan frekuensi bertemu atau banyaknya orang yang dikenal.
Mengapa seseorang bisa merasa kesepian di tengah keramaian?
Ada beberapa faktor yang membuat seseorang tetap merasa kesepian meski memiliki kehidupan sosial yang aktif.
1. Tidak merasa dipahami
Seseorang bisa berbincang dengan banyak orang setiap hari, tetapi percakapan yang terjadi hanya sebatas hal-hal ringan.
Akibatnya, mereka tidak memiliki ruang untuk menceritakan kekhawatiran, ketakutan, atau emosi yang sebenarnya dirasakan.
Ketika tidak ada yang benar-benar mendengarkan, rasa kesepian pun dapat muncul.
2. Hubungan yang dimiliki kurang bermakna
Menurut penelitian, hubungan sosial yang berkualitas ditandai oleh rasa saling percaya, diterima, dan didukung.
Sebaliknya, interaksi yang hanya bersifat formal atau karena kewajiban sosial belum tentu memenuhi kebutuhan emosional seseorang.