Jakarta, Beritasatu.com – Xiaomi mulai menunjukkan ketertarikannya pada industri penukaran baterai kendaraan listrik (battery swapping) seusai berinvestasi pada perusahaan rintisan asal China, Zhejiang Xinglixing New Energy Technology Co Ltd.
Berdasarkan data perusahaan di China, dikutip dari Arena EV, Sabtu (1/8/2026), GAZhejiang Xinglixing baru saja menerima tambahan modal dan melakukan restrukturisasi pemegang saham. Investasi tersebut berasal dari Hanxing Venture Capital, perusahaan yang didukung Xiaomi.
Masuknya Hanxing Venture Capital meningkatkan modal Zhejiang Xinglixing dari 100 juta yuan atau sekitar US$ 14,8 juta menjadi 130 juta yuan atau sekitar US$ 19,3 juta. Dengan investasi tersebut, Hanxing kini menguasai sekitar 23% saham perusahaan.
Langkah ini menjadi investasi pertama Xiaomi di sektor battery swapping yang selama ini didominasi sejumlah pemain besar di industri kendaraan listrik China.
Zhejiang Xinglixing sendiri tergolong pemain baru. Perusahaan itu baru berdiri pada Februari 2026 dan fokus pada penyediaan peralatan penukaran baterai, pengelolaan baterai kendaraan listrik, operasional stasiun tukar baterai, hingga manajemen aset baterai.
Meski investasi ini memicu spekulasi mengenai rencana Xiaomi mengembangkan mobil listrik dengan baterai yang dapat ditukar, sejumlah pengamat menilai hal tersebut masih jauh dari kenyataan.
Pasalnya, Zhejiang Xinglixing bukan perusahaan yang mengembangkan teknologi battery swapping baru. Perusahaan tersebut lebih berperan sebagai operator regional yang memanfaatkan teknologi yang sudah tersedia untuk menyediakan layanan kepada pengguna kendaraan listrik.
Pada sisi lain, Xiaomi juga masih fokus mengembangkan lini kendaraan listrik yang ada. Perusahaan baru saja memperkenalkan duo mobil SkyNomad EREV dan dinilai belum memiliki kapasitas produksi yang cukup untuk menambah jenis kendaraan baru dengan sistem baterai yang dapat ditukar.
Saat ini, pasar battery swapping masih dipimpin sejumlah perusahaan besar seperti Nio, Saic Motor, dan Catl. Di antara ketiganya, Nio menjadi pemain paling agresif dengan ambisi membangun jaringan stasiun penukaran baterai terbesar di dunia.