Soal Amerika dan Visa yang Jadi Biang Kerok di Piala Dunia 2026

Soal Amerika dan Visa yang Jadi Biang Kerok di Piala Dunia 2026

ilustrasi paspor (unsplash.com/Kit (formerly ConvertKit))
  • Breel Embolo tertahan ke Amerika Serikat karena izin ESTA-nya mendadak ditinjau ulang, membuatnya gagal berangkat bersama timnas Swiss jelang Piala Dunia 2026.
  • Wasit Somalia Omar Abdulkadir Artan ditolak masuk ke AS meski sudah punya visa sah, memicu sorotan terhadap kebijakan imigrasi yang makin ketat.
  • Piala Dunia 2026 di tiga negara tuan rumah menimbulkan tantangan administratif besar karena perbedaan aturan imigrasi, memperlihatkan pentingnya koordinasi lintas batas dalam ajang global ini.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Piala Dunia sejatinya merupakan ajang yang menyatukan orang-orang dari berbagai negara melalui sepak bola. Di tengah semangat persatuan tersebut, Piala Dunia 2026 justru diwarnai oleh sejumlah persoalan di luar lapangan. Salah satunya terkait urusan visa dan izin masuk ke negara tuan rumah.

Dua kasus yang paling menyita perhatian adalah striker Swiss Breel Embolo yang sempat tertahan akibat masalah dokumen perjalanan dan wasit terbaik Afrika asal Somalia, Omar Abdulkadir Artan, yang ditolak masuk ke Amerika Serikat meski telah mengantongi visa. Kedua peristiwa ini memunculkan pertanyaan besar mengenai tantangan administrasi yang muncul dalam turnamen yang digelar di tiga negara sekaligus. Lantas, mengapa urusan visa bisa menjadi salah satu kontroversi yang mencuat di Piala Dunia 2026? Berikut penjelasannya.

1. Kasus Breel Embolo yang mendadak tertahan karena dokumen visanya ditinjau ulang

Masalah visa di Piala Dunia 2026 mulai menjadi sorotan setelah menimpa penyerang Timnas Swiss, Breel Embolo. Saat skuad Swiss bertolak dari Zurich menuju Los Angeles untuk menjalani pemusatan latihan sebelum turnamen, Embolo justru tidak dapat ikut dalam rombongan. Penyebabnya bukan karena cedera atau pun alasan teknis sepak bola, melainkan karena dokumen perjalanan yang digunakannya untuk masuk ke Amerika Serikat tiba-tiba masuk dalam proses peninjauan ulang.

Mengutip Al Jazeera (14/6/2026), dokumen yang dimaksud adalah Electronic System for Travel Authorization (ESTA), yaitu sistem elektronik yang digunakan pemerintah Amerika Serikat untuk menentukan kelayakan warga negara tertentu memasuki wilayah Amerika Serikat melalui program bebas visa. Federasi Sepak Bola Swiss mengungkapkan bahwa izin ESTA milik Embolo sebenarnya telah disetujui sebelumnya. Namun, hanya beberapa jam sebelum keberangkatan tim, status permohonan tersebut berubah menjadi "further review" atau memerlukan pemeriksaan tambahan sehingga sang pemain tidak dapat berangkat bersama rekan-rekannya.

Federasi Swiss menyatakan tengah berkoordinasi dengan otoritas terkait dan berharap Embolo dapat segera menyusul tim nasional. Sejumlah media Swiss kemudian mengaitkan peninjauan ulang tersebut terhadap putusan hukum yang pernah menjerat pemain berusia 29 tahun itu terkait insiden di Basel pada 2018. Embolo diketahui dijatuhi hukuman denda bersyarat pada 2023 atas kasus ancaman dan putusan tersebut telah berkekuatan hukum tetap setelah ia memutuskan tidak mengajukan banding lebih lanjut ke Mahkamah Federal Swiss.

2. Omar Artan sudah kantongi visa, kenapa tetap ditolak masuk?

Nasib berbeda dialami wasit asal Somalia, Omar Abdulkadir Artan. Pria berusia 34 tahun itu sebelumnya masuk dalam daftar perangkat pertandingan resmi Piala Dunia 2026 yang berlangsung pada 11 Juni hingga 19 Juli. Namun, kesempatan bersejarah tersebut sirna setelah otoritas Amerika Serikat menolak memberikan izin masuk kepadanya meski ia telah mengantongi visa yang sah.

Meski gagal bertugas di Piala Dunia akibat persoalan imigrasi, karier Artan di level internasional tidak berhenti. Mengutip Reuters, UEFA menunjuknya sebagai salah satu wasit untuk laga Piala Super Eropa 2026 yang mempertemukan juara Liga Champions, Paris Saint-Germain, melawan juara Liga Europa, Aston Villa, pada 12 Agustus di Salzburg, Austria. UEFA menjelaskan bahwa penunjukan tersebut merupakan bagian dari kerja sama yang baru disepakati dengan Konfederasi Sepak Bola Afrika (CAF) guna memperkuat pengembangan wasit di kedua kawasan.

Dukungan terhadap Artan juga datang dari Presiden CAF, Patrice Motsepe. Ia menilai penghargaan Wasit Pria Terbaik Afrika 2025 yang diraih Artan serta penunjukannya untuk Piala Dunia 2026 merupakan bukti kualitasnya sebagai salah satu wasit terbaik di dunia. Di sisi lain, kasus Artan turut memicu perhatian terhadap kebijakan imigrasi Amerika Serikat yang semakin ketat. Seorang pejabat Amerika Serikat menyatakan bahwa penolakan tersebut berkaitan dengan dugaan hubungan Artan dengan individu yang dicurigai memiliki keterkaitan dengan organisasi teroris. Namun, tuduhan tersebut dibantah oleh pihak Somalia dan hingga kini masih menjadi perdebatan

3. Kenapa Piala Dunia 2026 lebih rentan masalah visa?

Piala Dunia 2026 memiliki karakteristik yang berbeda dibanding edisi-edisi sebelumnya karena diselenggarakan oleh tiga negara sekaligus. Kondisi ini membuat pergerakan pemain, ofisial, media, sponsor, hingga suporter menjadi jauh lebih kompleks. Mereka tidak hanya harus memenuhi persyaratan satu negara, tetapi berpotensi berhadapan dengan aturan yang berbeda di tiga wilayah yurisdiksi.

Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko memiliki kebijakan imigrasi masing-masing. Walaupun bekerja sama sebagai tuan rumah, ketiganya tetap memiliki kewenangan penuh untuk menentukan siapa yang boleh masuk ke wilayah negaranya. Situasi tersebut menciptakan tantangan administratif yang lebih besar dibanding Piala Dunia yang hanya berlangsung di satu negara.

Kompleksitas itu semakin terasa karena Piala Dunia melibatkan ribuan orang dari berbagai latar belakang dan kewarganegaraan. Beberapa peserta berasal dari negara yang memiliki hubungan diplomatik yang rumit terkait negara tuan rumah. Ada pula individu yang menghadapi pemeriksaan tambahan karena riwayat perjalanan, dokumen tertentu, atau faktor keamanan yang ditetapkan masing-masing negara.

FIFA sebenarnya telah berkoordinasi dengan pemerintah negara-negara tuan rumah untuk mempermudah proses kedatangan peserta. Namun, badan sepak bola dunia tersebut tidak memiliki kewenangan untuk membatalkan atau mengubah keputusan imigrasi suatu negara. Karena itu, persoalan visa tetap menjadi risiko yang dapat muncul sewaktu-waktu selama turnamen berlangsung.

4. Faktor administratif bukan perkara sepele

Kasus yang dialami Breel Embolo dan Omar Artan memperlihatkan bahwa Piala Dunia modern tidak hanya ditentukan oleh apa yang terjadi di lapangan. Faktor administratif kini memiliki pengaruh yang tidak kalah penting terhadap jalannya turnamen. Bahkan, pemain dan ofisial yang telah terdaftar secara resmi masih bisa menghadapi kendala ketika berhadapan dengan aturan perbatasan suatu negara.

Isu mobilitas internasional menjadi tantangan yang semakin nyata. Proses mobilisasi peserta dalam jumlah besar memerlukan koordinasi antara federasi olahraga, pemerintah, dan otoritas keamanan. Ketika salah satu unsur tersebut mengalami kendala, dampaknya bisa langsung dirasakan oleh peserta turnamen.

Meski hanya melibatkan beberapa orang, kasus Embolo dan Artan menunjukkan sisi lain dari penyelenggaraan Piala Dunia yang jarang mendapat perhatian. Sorotan biasanya tertuju pada pertandingan, gol, dan persaingan memperebutkan gelar juara. Namun di balik itu, terdapat urusan administrasi yang dapat menentukan apakah seseorang bisa tampil atau tidak di panggung sepak bola terbesar dunia.

Piala Dunia 2026 masih panjang dan akan menghadirkan banyak cerita menarik di lapangan hijau. Akan tetapi, dua kasus tersebut menjadi pengingat bahwa tantangan dalam turnamen modern tidak selalu berasal dari lawan yang dihadapi di atas rumput. Dalam beberapa situasi, hambatan justru muncul jauh sebelum peluit pertandingan pertama dibunyikan.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.