PPDS Meregang Nyawa, Alarm Bahaya yang Belum Kunjung Padam

PPDS Meregang Nyawa, Alarm Bahaya yang Belum Kunjung Padam

JAKARTA, KOMPAS.com - Kasus dugaan perundungan di lingkungan Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS) kembali bertambah.

Terbaru, dokter PPDS Anestesiologi RSUP Prof. RD Kandou Manado, Adrian Rantung, meninggal dunia.

Adrian diduga mengalami tekanan mental dan perundungan (bullying) yang kini masih diinvestigasi.

Sebelum Adrian, publik juga dikejutkan oleh meninggalnya PPDS anestesi Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Diponegoro (Undip) Semarang, Jawa Tengah (Jateng), berinisial ARL (30) pada 2024.

ARL ditemukan tewas di kamar kosnya karena dugaan yang sama.

Korbannya silih berganti, tetapi persoalannya kembali mengemuka.

Dugaan tekanan psikologis, relasi senior-junior yang timpang, hingga budaya pendidikan yang keras turut mendapat perhatian.

Ada yang harus diperbaiki

Direktur Jenderal (Dirjen) Kesehatan Lanjutan Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Azhar Jaya menilai, rentetan kasus yang terjadi pada peserta Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS) tidak bisa lagi dipandang sebagai peristiwa yang berdiri sendiri.

Berulangnya kasus, termasuk yang sama-sama melibatkan peserta PPDS Anestesiologi, menjadi sinyal terdapat aspek dalam sistem pendidikan dokter spesialis yang perlu dievaluasi secara menyeluruh.

Oleh karenanya, ia mengajak Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi beserta para pemangku kepentingan lain untuk duduk bersama mencari akar persoalan.

Sebab, pembenahan tidak dapat dilakukan oleh Kementerian Kesehatan semata, melainkan juga harus melibatkan perguruan tinggi, kolegium, hingga fakultas kedokteran sebagai penyusun kurikulum pendidikan dokter spesialis.

“Ini yang saya sampaikan ke pihak Dikti, ayo kita duduk bersama melihat sebenarnya ada masalah apa ini. Kalau sampai bunuh diri, menurut saya kita jangan bilang enggak ada apa-apa, tapi memang harus ada yang diperbaiki,” kata Azhar, saat dihubungi Kompas.com, Rabu (8/7/2026).

Nikmati Fitur Lengkap KARIN dengan KOMPAS.com PLUS

Dapatkan lebih banyak kuota, pahami berita lebih cepat, dan gali konteks mendalam dari artikel KOMPAS.com.