Polusi Udara Jadi Tantangan Terbesar Jakarta Menuju Kota Global

Polusi Udara Jadi Tantangan Terbesar Jakarta Menuju Kota Global

JAKARTA, KOMPAS.com - Polusi udara dinilai masih menjadi tantangan terbesar Jakarta dalam mewujudkan ambisi sebagai kota global yang modern dan berkelanjutan.

Epidemiolog dan pengamat kesehatan Dicky Budiman menilai, kualitas udara seharusnya menjadi indikator utama keberhasilan pembangunan Jakarta, bukan sekadar pertumbuhan ekonomi.

"Masalah kesehatan yang perlu menjadi perhatian utama Jakarta saat ini antara lain adalah polusi udara yang masih menjadi ancaman kesehatan terbesar," kata Dicky saat dihubungi Kompas.com melalui Whatsapp, Senin (22/6/2026).

Menurut dia, polusi udara berdampak luas terhadap kesehatan masyarakat, mulai dari penyakit jantung, stroke, kanker paru, hingga kematian dini.

"Polusi udara sesungguhnya merupakan isu kesehatan masyarakat yang sangat serius dan berdampak pada berbagai masalah kesehatan, mulai dari penyakit jantung, stroke, kanker paru, hingga kematian dini," ujarnya.

Kualitas Udara Indikator Penting untuk Jadi Kota Global

Ia menegaskan, jika Jakarta ingin menjadi kota global, kualitas udara harus menjadi indikator utama keberhasilan pembangunan.

"Jadi, jika Jakarta ingin menjadi kota global, kualitas udara harus menjadi indikator utama keberhasilan pembangunan, bukan sekadar pertumbuhan ekonomi," katanya.

Dicky juga menyoroti bahwa tantangan kesehatan Jakarta tidak hanya terbatas pada polusi udara, tetapi juga mencakup berbagai faktor lain yang saling berkaitan.

Ia menyebut Jakarta merupakan salah satu wilayah dengan prevalensi tinggi untuk hipertensi, diabetes, obesitas, dan penyakit jantung.

"Jakarta merupakan salah satu wilayah dengan prevalensi tinggi untuk hipertensi, diabetes, obesitas, dan penyakit jantung," kata Dicky.

Menurut dia, kondisi tersebut erat kaitannya dengan pola hidup perkotaan, seperti kurangnya aktivitas fisik, konsumsi makanan ultra-proses, stres kronis, serta kualitas lingkungan yang kurang sehat.

Kesehatan Mental hingga Ketimpangan Jadi Sorotan

Selain itu, ia juga menyoroti meningkatnya masalah kesehatan mental di perkotaan akibat tekanan ekonomi, kemacetan, kepadatan penduduk, kesepian sosial, dan ketidakpastian masa depan.

"Kesehatan mental masyarakat perkotaan juga menjadi masalah yang harus diatasi karena terus meningkat seiring tekanan ekonomi, kemacetan, kepadatan penduduk, kesepian sosial, dan ketidakpastian masa depan," ujarnya.

Dicky menegaskan bahwa kota global tidak hanya diukur dari produktivitas ekonomi, tetapi juga dari kemampuan menjaga kesejahteraan psikologis warganya.

"Kota global bukan hanya kota yang produktif secara ekonomi, tetapi juga kota yang mampu menjaga kesejahteraan psikologis warganya," katanya.

Nikmati Fitur Lengkap KARIN dengan KOMPAS.com PLUS

Dapatkan lebih banyak kuota, pahami berita lebih cepat, dan gali konteks mendalam dari artikel KOMPAS.com.