Percuma OPEC+ Naikkan Kuota Minyak jika Selat Hormuz Ditutup

Percuma OPEC+ Naikkan Kuota Minyak jika Selat Hormuz Ditutup

Singapura, Beritasatu.com – Keputusan anggota utama Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak dan sekutunya (OPEC+) untuk meningkatkan kuota produksi minyak mentah September 2026 dinilai belum banyak berdampak terhadap pasar.

Gangguan distribusi akibat konflik Iran membuat tambahan produksi tersebut sulit dikirim ke pasar global.

Selama Selat Hormuz masih sebagian besar tertutup dan ancaman terhadap jalur pelayaran di sekitar Selat Bab el-Mandeb belum terselesaikan, negara-negara eksportir minyak diperkirakan kesulitan mengirimkan volume minyak sesuai kuota produksi yang telah disepakati.

Tujuh anggota OPEC+ yang menjalankan pemangkasan produksi sukarela, yakni Arab Saudi, Rusia, Irak, Kuwait, Aljazair, Kazakhstan, dan Oman, sepakat meningkatkan produksi sebesar 188.000 barel per hari (bph) mulai September 2026.

Keputusan tersebut menjadi tahap terakhir dari pengurangan bertahap pemangkasan pasokan sebesar 1,65 juta bph yang disepakati pada 2023. Saat itu, Uni Emirat Arab masih menjadi bagian dari kelompok tersebut sebelum keluar dari Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) pada Mei 2026.

Namun, besaran kuota produksi saat ini dinilai belum menjadi faktor utama di pasar. Survei Reuters menunjukkan delapan anggota OPEC yang memiliki kuota hanya memproduksi 20,276 juta bph pada Juni 2026. Angka tersebut 6,246 juta bph lebih rendah dari target yang telah disepakati.

Rusia sebagai anggota non-OPEC terbesar dalam kelompok OPEC+ mencatat produksi 8,928 juta bph pada Juni 2026, berdasarkan data OPEC. Angka tersebut hampir 1 juta bph di bawah kuota yang ditetapkan.

Analis komoditas dan energi Asia Clyde Russell mengatakan, keputusan OPEC+ untuk mengakhiri pemangkasan produksi sukarela memang belum banyak berarti bagi pasar dalam kondisi saat ini. Namun, kebijakan tersebut menunjukkan tantangan yang dihadapi negara eksportir maupun importir minyak.

Menurut dia, terdapat tiga skenario utama yang dapat menentukan arah pasar minyak mentah.

"Pertama, Iran dan Amerika Serikat (AS) mencapai kesepakatan damai yang memungkinkan lalu lintas kapal berlangsung secara aman dan tanpa hambatan melalui Selat Hormuz dan Bab el-Mandeb," kata dia dilansir dari Reuters.

Kedua, konflik berlangsung secara berkala dengan periode eskalasi yang diselingi harapan gencatan senjata dan kesepakatan damai. Namun, harapan tersebut kembali gagal dan serangan rudal serta pesawat nirawak berlanjut.

Skenario ketiga adalah eskalasi konflik terus meningkat. Presiden AS Donald Trump dapat memerintahkan serangan terhadap infrastruktur sipil dan energi Iran, yang kemudian dibalas Iran dengan serangan terhadap infrastruktur energi negara-negara Teluk yang menjadi lokasi pangkalan militer AS, seperti Arab Saudi, Kuwait, dan Irak.

Pasar minyak berjangka tampaknya lebih banyak memperhitungkan skenario pertama. Harga minyak Brent turun 6,8% pada awal perdagangan Asia Senin (3/8/2026) menjadi US$ 83,98 per barel.

Harga tersebut sekitar 34% lebih rendah dibandingkan level tertinggi selama konflik Iran, yakni US$ 126,41 per barel pada 30 April 2026. Namun, harga Brent masih 16% lebih tinggi dibandingkan penutupan 27 Februari 2026 sebesar US$ 72,48 per barel, sehari sebelum AS dan Israel melancarkan serangan terhadap Iran.

OPEC+

Harga Minyak

Minyak Mentah

Harga Minyak Dunia

Jika skenario pertama terwujud, harga minyak mentah berpotensi turun cepat dari level saat ini. Negara-negara OPEC+ kemungkinan dapat meningkatkan produksi dalam waktu relatif singkat dan menambah pasokan ke pasar ketika produsen lain juga berupaya memaksimalkan ekspor.

Kesepakatan damai yang menyeluruh juga berpotensi memungkinkan Iran kembali menjual minyak mentah secara terbuka. Dengan demikian, minyak Rusia kemungkinan menjadi satu-satunya pasokan yang masih menghadapi sejumlah sanksi negara-negara Barat.

Jika skenario kedua terjadi dalam beberapa bulan mendatang, keputusan OPEC+ menaikkan produksi menjadi kurang relevan. Perhatian pasar akan lebih tertuju pada volume minyak yang dapat melewati Selat Hormuz.

Selain itu, pasar akan mencermati efektivitas ekspor Arab Saudi melalui Laut Merah dan ekspor Uni Emirat Arab dari kawasan Teluk Oman dalam mengompensasi hilangnya pasokan yang biasanya melewati Selat Hormuz.

Dalam skenario tersebut, harga minyak diperkirakan bergerak volatil dan sangat dipengaruhi perkembangan berita, termasuk unggahan Trump di media sosial.

Sementara itu, skenario ketiga merupakan kondisi yang paling ingin dihindari pasar. Eskalasi berkepanjangan dapat menyebabkan kerusakan besar dan berlangsung lama terhadap infrastruktur energi di Timur Tengah.

Kondisi tersebut berpotensi menimbulkan tekanan terhadap ekonomi global karena dunia harus menyesuaikan diri dengan hilangnya pasokan minyak mentah dan gas alam cair (LNG) yang mencapai 20% dari pasokan global.

OPEC+

Harga Minyak

Minyak Mentah

Harga Minyak Dunia