London, Beritasatu.com – OPEC+ menyepakati kenaikan kuota produksi minyak sekitar 188.000 barel per hari mulai September 2026. Keputusan tersebut sekaligus menandai berakhirnya pengurangan produksi sukarela yang sebelumnya diterapkan secara bertahap oleh kelompok produsen minyak tersebut.
Kenaikan kuota itu dilakukan ketika gangguan ekspor dari kawasan Teluk, Rusia, dan Kazakhstan akibat perang Iran dan Ukraina membuat kenaikan produksi bulanan OPEC+ sepanjang tahun ini sebagian besar belum berdampak signifikan terhadap pasokan di pasar global.
Kenaikan produksi September disepakati oleh anggota inti OPEC+, yakni Arab Saudi, Rusia, Irak, Kuwait, Aljazair, Kazakhstan, dan Oman. Dengan keputusan tersebut, kelompok produsen minyak menyelesaikan pengurangan bertahap atas pemangkasan pasokan sebesar 1,65 juta barel per hari yang disepakati sejak 2023.
Saat kesepakatan tersebut dibuat, Uni Emirat Arab (UEA) masih menjadi anggota OPEC+. Namun, negara tersebut keluar dari Organisasi Negara-Negara Pengekspor Minyak (OPEC) pada Mei 2026.
Sebelum pertemuan berlangsung, sejumlah sumber OPEC+ memperkirakan kelompok tersebut akan menghentikan sementara kenaikan produksi pada kuartal IV 2026. Namun, pernyataan resmi setelah pertemuan tidak menyebutkan rencana produksi untuk tiga bulan terakhir tahun ini.
Analis Rystad Jorge Leon menilai penghentian sementara kenaikan produksi masih menjadi salah satu opsi yang memungkinkan.
"OPEC+ telah menyelesaikan pengurangan bertahap atas pemangkasan produksi sukarela. Tantangan berikutnya adalah mengelola surplus yang dapat muncul ketika arus ekspor kembali normal," kata Leon dilansir dari Reuters.
Menurut dia, setelah menyelesaikan proses pemulihan produksi, OPEC+ tidak memiliki alasan kuat untuk segera mengubah tingkat pasokan lebih lanjut. Skenario dasar Rystad memperkirakan OPEC+ akan menghentikan sementara kenaikan produksi pada kuartal IV sembari mempersiapkan negosiasi kuota produksi 2027.
OPEC+ Tinjau Kapasitas Produksi
Dengan disepakatinya kenaikan produksi September, OPEC+ masih mempertahankan satu lapisan pemangkasan produksi lain yang berlaku bagi sebagian besar anggotanya.
Pemangkasan tersebut mencapai sekitar 2 juta barel per hari. Kebijakan itu berasal dari kesepakatan pada 2022 dan dijadwalkan tetap berlaku hingga akhir 2026.
OPEC+ saat ini juga melakukan peninjauan terhadap kapasitas produksi minyak para anggotanya. Hasil peninjauan tersebut akan digunakan untuk menentukan basis produksi 2027 yang menjadi acuan dalam penetapan kuota masing-masing negara.
Proses penetapan kuota tersebut berpotensi memunculkan perundingan yang cukup sulit. Sejumlah anggota, termasuk Irak, mendorong kenaikan kuota produksi masing-masing agar lebih mencerminkan kapasitas produksi mereka yang meningkat.
OPEC+ terdiri atas 21 negara yang mencakup anggota Organisasi Negara-Negara Pengekspor Minyak (OPEC), Rusia, serta sejumlah negara sekutu lainnya.
Dalam beberapa tahun terakhir, pengelolaan produksi secara bulanan hanya melibatkan tujuh negara anggota inti tersebut. UEA juga sebelumnya terlibat dalam pengelolaan produksi bulanan sebelum keluar dari OPEC.