Kisah Jatuh Bangun Ren Zhengfei, Pendiri Huawei yang Jadi Simbol Ketahanan dan Kemandirian Teknologi

Kisah Jatuh Bangun Ren Zhengfei, Pendiri Huawei yang Jadi Simbol Ketahanan dan Kemandirian Teknologi

Selular.ID – Ren Zhengfei merupakan salah satu pemimpin bisnis China yang paling menginspirasi dan dihormati.

Dengan kepribadian yang tetutup dan rendah hati, Ren yang dibesarkan dalam keluarga miskin, mampu mengubah tantangan menjadi peluang, mencerminkan ketangguhan masyarakat China yang sudah terbentuk sejak berabad-abad lalu.

Pada 1982, saat berusia 43 tahun Ren Zhengfei memilih untuk pensiun dari People’s Liberation Army (PLA). Setelah tidak lagi berseragam tentara, ia kemudian bekerja sebagai wakil manajer di salah satu anak perusahaan elektronik dari Shenzhen Nanyou Group (SNG).

Badai datang di hidup Ren Zhengfei, tidak lama setelah keluar dari SNG, istrinya pergi meninggalkannya. Padahal pada saat itu, Ren Zhengfei sedang mengalami persoalan besar.

Ia harus merawat kedua orang tuanya yang telah pensiun, sekaligus membantu keenam adik perempuan dan laki-lakinya.

Namun Ren Zhengfei tidak menyerah. Dengan ketangkasan seorang prajurit dan pengalaman selama 11 tahun di pendidikan militer, Ren Zhengfei tidak jatuh di hadapan tantangan ini.

Tak membuang waktu merenungi kegagalan dalam pekerjaan dan kehancuran keluarganya, Ren Zhengfei dengan yakin memulai bisnisnya sendiri.

Pada 1987, dengan modal hanya sebesar 20.000 Yuan, bersama dengan sejumlah rekannya, ia mendirikan “Shenzhen Huawei Technologies Company”.

Ketika orang bertanya apa arti Huawei, Ren Zhengfei menjawab. “Hua” berarti China dan ‘Wei” berarti menggapai. Dengan demikian Huawei artinya adalah, China dapat menggapai.

Berawal dari usaha kecil sebagai pengecer switch telepon, ia mengubah perusahaan tersebut menjadi raksasa jaringan telekomunikasi, vendor smartphone, sekaligus AI global yang menghasilkan pendapatan tahunan lebih dari 118 miliar dolar AS.

Namun seperti pepatah, semakin tinggi pohon semakin kencang angin menerpa, sejak hampir satu dekade, Huawei menghadapi sanksi geopolitik yang berat.

Seperti diketahui, demi melindungi keamanan nasional, pada 2018 pemerintah AS melarang Huawei berbisnis dengan perusahaan AS dan sekutu-sekutunya. Alasan kedekatan Huawei dengan pemerintah dan militer China, menjadi dasar dari sanksi tersebut.

Washington khawatir peralatan 5G dan infrastruktur telekomunikasi Huawei dapat digunakan oleh Partai Komunis China untuk spionase negara, sabotase, atau kendali jarak jauh terhadap infrastruktur penting.

Imbas sanksi tersebut, sejumlah negara, terutama sekutu-sekutu AS, juga memberlakukan larangan atau pembatasan ketat terhadap penggunaan teknologi serta perangkat Huawei. Seperti Inggris, Jerman, Luksemburg, Belgia, Belanda, Polandia, Perancis, Jepang, Australia, dan Selandia Baru.

Di sisi lain, Huawei secara konsisten membantah semua tuduhan yang dilayangkan oleh pemerintah Amerika Serikat. Bantahan ini tak hanya menyangkut spionase negara, namun juga pencurian rahasia dagang, hingga pelanggaran sanksi internasional dan kontrol ekspor teknologi yang semakin ketat.

Ilustrasi terkait Huawei

Sanksi Malah Membuat Huawei Mandiri

Ironisnya, kebijakan restriktif Amerika Serikat terhadap China justru mengkatalisasi kemajuan teknologi yang diraih Huawei, sekaligus mendorong pertumbuhan negara tirai bambu di bidang-bidang yang selama ini dikuasai AS, seperti semikonduktor.

Ren Zhengfei bahkan cenderung meremehkan sanksi AS. Hal itu tercermin dari pernyataan Ren Zhengfei, tentang dampak kontrol ekspor AS. Dalam wawancara dengan People’s Daily yang diterbitkan pada Selasa (10/5/2025) di halaman depan surat kabar tersebut, Ren mengatakan bahwa Huawei tidak perlu khawatir tentang tantangan chip.

Dalam menghadapi blokade dan penindasan eksternal, “tidak perlu terlalu banyak memikirkan kesulitan, ambil tindakan dan maju selangkah demi selangkah”, katanya.

Ren menguraikan strategi pragmatis perusahaannya untuk mengatasi pembatasan teknologi AS, dengan menekankan investasi dan pelaksanaan penelitian teoritis yang tiada henti.

Demi mensiasati sanksi tersebut, Huawei secara agresif meningkatkan penelitian dan pengembangan semikonduktor dengan berfokus pada pengemasan canggih dan arsitektur chip baru, sepenuhnya merestrukturisasi cara mereka menghindari sanksi AS.

Dengan beralih ke “system time scaling” atau “penskalasian waktu sistem” secara holistik daripada hanya bersaing dalam ukuran transistor, Huawei menargetkan dapat memproduksi chip dengan kinerja setara 1,4 nanometer pada 2031.

Dirancang untuk menghindari sanksi AS, chip ini akan bersaing langsung dengan pemimpin industri seperti TSMC (yang menargetkan 1,4 nm pada 2028), Samsung Foundry, Intel, Nvidia dan Apple.

Ren Zhengfei Jadi Simbol Ketahanan dan Kemandirian Teknologi

Faktanya, meski menghadapi gelombang pembatasan, sebagai pendiri Huawei, Ren Zhengfei berhasil membimbing perusahaan melewati sanksi berat AS, mengubah Huawei menjadi juara inovasi dalam negeri.

Bisnis Huawei telah berhasil beralih ke kemandirian domestik dan pasar negara berkembang. Raksasa teknologi yang berbasis di Shenzhen itu, mengubah pembatasan AS menjadi katalisator untuk kemerdekaan.

Meskipun kehilangan akses ke Google Mobile Services (GMS) dan pemasok chip global canggih, Huawei telah membangun kembali sektor ponsel pintar konsumen yang berkembang pesat, memperluas jejak AI dan cloud-nya secara global, sekaligus memperkuat kepemimpinannya di bidang teknologi.

Pencapaian Huawei juga tercermin dari laporan kinerja yang terus meningkat. Huawei melaporkan total pendapatan penjualan global sebesar CNY 880,9 miliar (sekitar $127,5 miliar) pada 2025, menandai peningkatan 2,2% dibandingkan tahun sebelumnya.

Ini menjadikannya pendapatan tahunan tertinggi kedua dalam sejarah perusahaan, hanya kalah dari rekor CNY 891 miliar yang dicapai pada 2020.

Kinerja Huawei yang kembali meningkat meski disanksi AS, berbuah pujian dari CEO Nvidia Jensen Huang.

Meskipun kerap berada dalam situasi yang menegangkan dan penuh persaingan, imbas persoalan geopolitik yang naik turun dipicu oleh perang tarif, CEO Nvidia itu tetap memuji Huawei sebagai perusahaan terkuat di dunia teknologi.

Jensen mengatakan bahwa raksasa teknologi China itu merupakan salah satu perusahaan terkuat dalam sejarah dunia dan patut dihormati semua orang.

“Huawei tidak hanya sangat inovatif, tetapi juga perusahaan dengan skala dan kekuatan yang luar biasa. Huawei jauh lebih besar daripada kami, baik dalam hal ukuran perusahaan, jumlah personel, dan kapabilitas teknologi”, ujar Jensen, saat menghadiri acara Center for Strategic and International Studies (CSIS) di AS pada Rabu (3/12/2025).

Tak dapat dipungkiri, keberhasilan menghadapi tekanan AS dan sekutu-sekutunya, membuat Ren Zhengfei dipandang sebagai simbol utama ketahanan nasional dan kemandirian teknologi yang terus dibangun oleh China. Membuat China sejajar bahkan melebihi AS dan negara-negara maju lainnya.