GOWA, KOMPAS.com - Sudah dua bulan kapten kapal asal Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan, Ashari Samadikun, disandera perompak Somalia.
Di tengah ketidakpastian nasib putranya, sang ayah, Syamsuddin Dg Ngawing (67), memohon campur tangan Presiden Prabowo Subianto agar para sandera segera dibebaskan.
Permohonan itu disampaikan Syamsuddin saat ditemui di kediamannya di Dusun Moncongloe, Desa Paccellekang, Kecamatan Pattallassang, Kabupaten Gowa, Senin (22/6/2026).
Ia mengaku terus dihantui kecemasan sejak Ashari ditawan saat menjalankan pekerjaan sebagai pelaut.
Menurut Syamsuddin, pemerintah perlu memberi perhatian serius terhadap nasib empat warga negara Indonesia (WNI) yang hingga kini masih berada di atas kapal yang dikuasai kelompok perompak.
"Tolong Pak Presiden Prabowo Subianto, anak saya juga warga negara Indonesia yang keluar negeri untuk mencari nafkah," ucap Syamsuddin, dilansir dari TribunGowa, Senin.
"Saya berharap kepada bapak Presiden sebagai kepala negara. Anak saya adalah warga negara Indonesia yang keluar negeri untuk mencari nafkah," ucapnya.
Kondisi Sandera Kian Memprihatinkan
Syamsuddin menuturkan, kondisi putranya terus menurun selama masa penyanderaan.
Informasi yang diterimanya menyebutkan Ashari mengalami perubahan fisik yang cukup drastis.
Ia mengatakan, tubuh putranya semakin kurus, sementara rambut dan janggutnya sudah memanjang. Pakaian yang dikenakan pun disebut sudah tampak lusuh.
"Saya minta tolong supaya pemerintah dan anggota dewan memperhatikan anak saya dan tiga orang Indonesia lainnya yang ada di atas kapal. Kondisinya sekarang sudah sangat memprihatinkan," ucap Syamsuddin.
"Badannya sudah kurus, matanya kosong, rambut dan jenggotnya sudah panjang. Inilah keprihatinan saya sebagai orangtua," tambahnya.
Syamsuddin mengaku tidak pernah bisa menjalani hari-harinya dengan tenang sejak kabar penyanderaan tersebut diterima keluarga.
Keluarga Keluhkan Minimnya Respons Perusahaan
Selama ini, kata Syamsuddin, perkembangan informasi lebih banyak diperoleh melalui komunikasi dengan Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Somalia.
Sebaliknya, perusahaan tempat Ashari bekerja disebut tidak pernah menjalin komunikasi dengan pihak keluarga maupun melakukan upaya negosiasi dengan para perompak.