Kendalikan Asupan Garam dengan Memasak Sendiri di Rumah

Kendalikan Asupan Garam dengan Memasak Sendiri di Rumah

KOMPAS.com - Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) merekomendasikan konsumsi garam tidak lebih dari 5 gram atau sekitar satu sendok teh per hari untuk orang dewasa. Namun, banyak orang tanpa sadar mengonsumsi garam melebihi batas tersebut, baik dari makanan olahan maupun dari masakan sehari-hari. 

Efek paling berbahaya dari kelebihan garam adalah meningkatnya tekanan darah atau hipertensi, yang menjadi pintu masuk bagi berbagai penyakit serius seperti penyakit jantung, penyakit ginjal, hingga peningkatan risiko kanker lambung.

Karena itu, upaya mengurangi asupan garam perlu dimulai dari kebiasaan sederhana, salah satunya dengan lebih sering memasak di rumah. Selain memberi kendali terhadap jumlah garam yang digunakan, memasak sendiri memungkinkan penggunaan berbagai bumbu, rempah, dan penyedap rasa secara lebih bijak untuk tetap menghasilkan hidangan yang lezat.

Salah satu strategi yang didukung bukti ilmiah adalah memanfaatkan monosodium glutamat (MSG) sebagai pengganti sebagian garam dalam masakan. MSG mengandung sekitar sepertiga kadar natrium dibandingkan garam dapur, tetapi mampu memberikan cita rasa umami yang dapat mempertahankan kelezatan makanan meski jumlah garam dikurangi. 

Untuk meningkatkan kesadaran masyarakat akan bahaya konsumsi gula dan garam berlebih, serta meluruskan mitos keliru seputar penggunaan MSG, PT.Sasa Inti meluncurkan kampanye #MSGYangBenar itu Sehat dan Lezat.

"Kami ingin menggeser percakapan publik. MSG bukan musuh, melainkan solusi memasak praktis bagi keluarga Indonesia agar makanan sehat dan bergizi semakin lezat. Mitos-mitos yang beredar di masyarakat tentang MSG itu seringkali keliru dan salah kaprah," ujar Albert Dinata, Head of Marketing PT Sasa Inti dalam keterangan pers.

Data dari U.S. Food and Drug Administration (FDA) dan WHO menunjukkan natrium dalam MSG hanya 12 persen jauh lebih rendah dibanding garam dapur yang mencapai 40 persen.

Selain itu, Journal of Food Science mengungkapkan bahwa penggunaan MSG yang tepat dapat memotong kebutuhan asupan garam dapur hingga 30 persen sekaligus meningkatkan penerimaan rasa secara keseluruhan.

"Banyak anggapan keliru yang menyebutkan bahwa MSG adalah zat yang berbahaya. Namun faktanya, banyak lembaga kesehatan resmi tidak memasukkan MSG ke dalam zat berbahaya di panduan kesehatan mereka. Penggunaan MSG dalam batas aman dan wajar di setiap masakan sama sekali tidak berbahaya," kata dr.

Reisa Broto Asmoro.

Ia mengatakan, glutamat bukanlah hal yang asing bagi tubuh karena zat ini bisa ditemukan secara alami di berbagai makanan, termasuk keju, kecap, bahkan di dalam ASI.

Untuk mengurangi risiko penyakit, selain mengurangi garam dapur, perhatikan label makanan olahan yang merupakan sumber natrium tersembunyi, seperti daging olahan, saus dan bumbu, hingga makanan kaleng.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang