JAKARTA, KOMPAS.com - Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung menyebut Indeks Kota Global Jakarta kini berada di atas Washington DC, Amerika dan Abu Dhabi, Uni Emirat Arab.
Hal itu disampaikan Pramono saat menghadiri Jakarta Kreatif Festival 2026 di Istora Senayan, Minggu (5/7/2026).
"Dua-tiga minggu yang lalu, dilakukan survei oleh lembaga internasional yang berpusat di Brussels, kota-kota ibu kota dunia, dari 100 kota dunia, Jakarta ranking 53. Jakarta lebih bagus dari Washington DC yang penting itulah. Lebih bagus juga dari Abu Dhabi," kata Pramoni Anung di Istora Senayan, Minggu.
Mantan Sekretaris Kabinet itu mengatakan, saat dirinya dilantik sebagai Gubernur DKI Jakarta, Indeks Kota Global Jakarta masih berada di peringkat ke-74.
"Dan alhamdulillah, dalam 10 bulan naik menjadi 71," kata Pramono.
Pramono menjelaskan, sebagai kota global dan pusat perekonomian nasional, Jakarta harus memiliki berbagai terobosan dan langkah yang berbeda dibandingkan kota-kota lain di Indonesia.
Sesuai Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2024, Jakarta menyandang status sebagai kota global, pusat perekonomian nasional, sekaligus masih menjadi ibu kota negara.
Karena itu, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta terus melakukan berbagai langkah untuk meningkatkan daya saing Jakarta di tingkat global.
Ekonomi Jakarta tumbuh
Ia menambahkan, pada triwulan I 2026, ekonomi Jakarta tumbuh sebesar 5,59 persen dengan kontribusi terhadap produk domestik bruto (PDB) nasional mencapai 16,67 persen.
"Dan yang saya senang adalah Jakarta secara keseluruhan memberikan kontribusi hampir 38 persen transaksi yang menggunakan QRIS di seluruh Indonesia," ungkap Pramono.
Sementara itu di lokasi yang sama, Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi DKI Jakarta Iwan Setiawan menilai Jakarta merupakan kunci pertumbuhan ekonomi nasional.
"Jakarta adalah kunci. Sebanyak 16,67 persen pertumbuhan ekonomi Indonesia disumbang oleh Jakarta. Sekitar seperlima inflasi nasional bergantung pada stabilitas harga di Jakarta. Dengan demikian, menjaga Jakarta berarti menjaga Indonesia," ungkap Iwan Setiawan.
Iwan mengatakan, sektor ekonomi kreatif memiliki peluang besar untuk menjadi new engine of growth bagi perekonomian Jakarta.
"Dengan bertumpu pada ide, inovasi, kreativitas, teknologi, dan budaya, ekonomi kreatif mampu menciptakan nilai tambah ekonomi yang tinggi tanpa bergantung pada sumber daya alam yang terbatas," ungkap Iwan
"Kota-kota besar di dunia yang kita saksikan seperti London, Paris, New York, Seoul, Tokyo, dan Beijing telah membuktikan bahwa ekonomi kreatif mampu menciptakan lapangan kerja yang luas, menarik investasi, mendorong pariwisata," tutup Iwan.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarangNikmati Fitur Lengkap KARIN dengan KOMPAS.com PLUS
Dapatkan lebih banyak kuota, pahami berita lebih cepat, dan gali konteks mendalam dari artikel KOMPAS.com.