Bagi sebagian anak, panggung megah dengan sorot lampu berkilauan bisa menjadi tempat yang mengintimidasi. Namun bagi Jesslyn Kiandra Sunjaya, bocah cilik asal Banyuwangi, Jawa Timur, runway adalah taman bermainnya.
Di atas karpet melenggang itulah ia baru saja menorehkan prestasi gemilang sebagai Grand Winner Face of Indonesia Kids 2026, sebuah tiket emas yang akan membawanya terbang mewakili Indonesia ke ajang bergengsi Face of Asia 2026 di Korea Selatan.
Gelar tertinggi itu diraih Jesslyn dalam kompetisi nasional yang digelar di She La Vie Grand Ballroom, Tangerang, pada 25-27 Juni 2026 lalu. Setelah melewati rangkaian seleksi panjang mulai dari audisi daring, masa karantina, hingga bootcamp, bocah kelahiran 5 Mei 2021 ini sukses memborong berbagai penghargaan pelengkap, di antaranya Best Catwalk Challenge, Best Evening Gown, Best Video Profile, Best Beauty and Commercial Walk, serta Favorite Model.
Jesslyn merupakan buah hati dari pasangan Rylifian Andika Putra, dan Bella Dona. Mereka merupakan warga Lingkungan Sukowidi, Kelurahan Klatak, Kecamatan Kalipuro, Banyuwangi, Jawa Timur. Di usianya yang masih sangat muda, langkah kaki Jesslyn ke panggung internasional membuktikan bahwa talenta daerah mampu berbicara banyak di level nasional.
Namun, langkah besar ini tidak terjadi dalam semalam. Bakat alaminya mulanya terendus dari polah jenaka di rumah. Sang papa, Fian sapaanya, menceritakan bahwa Jesslyn termasuk anak yang sangat cerdas dan responsif.
"Jesslyn itu cerdas, dia cepat bisa untuk diajarin apapun, nyanyi, ngafalin lagu, gerakan. Walaupun kelihatannya tidak memperhatiin, tapi dia nangkep," kenang Fian kepada kumparan, Kamis (2/7).
Polah unik Jesslyn kecil pun kian memperkuat insting orang tuanya bahwa ia memiliki masa depan di dunia fashion.
"Kita lihat kebiasaannya di depan kaca, kok cocok di modelling ya. Jadi saya dan mamanya nawarin ke dia, pertama dia nolak, ya namanya juga anak kecil, belum kenal orang baru dia takut," lanjut Fian.
Ketakutan itu akhirnya luruh total saat mereka sekeluarga sedang berada di Bali pada Maret 2025. Di sanalah titik balik emosional Jesslyn bermula secara tidak terduga.
"Terus waktu main di Bali, dia tiba-tiba pingin ikut karena banyak temen-temennya yang kecil-kecil, akhirnya waktu itu dia ikut parade di Bali," tutur Fian.
Perjalanan menempa mental kemudian dimulai dari kompetisi ke kompetisi lokal di sekitar Jawa Timur, seperti Jember dan Banyuwangi. Di panggung-panggung ini, Jesslyn akrab dengan juara dua atau tiga. Sebuah proses yang sempat memantik pertanyaan polos langsung dari bibirnya.
Fian menceritakan, "Dia sering tanya, 'Kenapa ya Pa kok gak juara 1?',".
Alih-alih membuat sang anak berkecil hati, Fian menggunakan momen tersebut untuk menanamkan jiwa sportivitas dan kegigihan sejak dini.
"Ya di sini saya support, saya bilangi 'Ya berarti kurang bagus nak, jadi harus lebih latihan lagi ya', ya motivasi-motivasi kecil gitu yang buat dia pingin juara 1," ungkap Fian.
Kerja keras dan ketangguhan mental itu diuji habis-habisan dalam karantina tiga hari intensif Face of Indonesia di Tangerang. Jadwal yang padat bahkan sempat membuat fisik kedua orang tuanya tumbang. Namun, Jesslyn justru menunjukkan ketahanan fisik luar biasa karena rasa cintanya yang besar pada panggung fashion.
"Untuk kemarin yang waktu di Face of Indonesia sebenarnya kita awalnya berangkat hanya untuk menambah pengalamannya di dunia modeling. Kan acaranya 3 hari berturut-turut, kita aja orang tuanya sampai sempat sakit, tapi Jesslyn kuat, dan mungkin suka. Kita gak nyangka ekspektasinya gak di sana," jelas Fian.
Di balik kemenangan besar Jesslyn, ada pula kisah pengorbanan yang mengharukan dari sang pelatih, Om Sella. Di tengah-tengah ajang yang krusial, Om Sella menerima kabar duka bahwa ibundanya meninggal dunia di Banyuwangi. Meski pihak keluarga Jesslyn telah memfasilitasi tiket pesawat agar ia bisa segera pulang, Om Sella memilih bertahan demi mendampingi anak didiknya hingga tuntas.
"Ya mungkin menjadi grand winner ini juga kado buat Om Sella dari Jesslyn," tambah Fian dengan haru.
Kini, tantangan yang jauh lebih besar telah menanti di Korea Selatan pada 19-22 November 2026 mendatang. Ajang Face of Asia 2026 akan mempertemukan para model muda terbaik dari berbagai negara se-Asia. Di panggung lokal Jesslyn hanya perlu menaklukkan runway sepanjang belasan meter, di Seoul ia harus berjalan dengan ketegasan standar top model dunia di atas panggung sepanjang 35 meter, bersaing ketat dengan perwakilan dari 27 negara.
Untuk menyiasati hal tersebut, persiapan unik tengah dirancang oleh keluarga agar Jesslyn tetap merasa nyaman tanpa kehilangan rasa gembiranya.
"Untuk persiapan ke Korea, kita nanti lebih mengajarkan jalan Jesslyn lebih panjang ya. Mungkin baginya ini lebih menyenangkan sekalian refreshing dengan kita ajarkan di ruang terbuka seperti di Pantai Boom untuk bisa runway lebih panjang," ungkap Fian.
Ruang terbuka sengaja dipilih agar ketegasan langkahnya terasah dengan matang sesuai dengan regulasi internasional. "Kita fokus latihan di outdoor, karena di Korea itu ketegasan jalan, mereka rules-nya udah top model dunia,” terang Fian.
Ketika berhasil menggenggam piala kemenangan besar itu untuk pertama kalinya, Jesslyn mengekspresikan kebahagiaannya dengan sangat polos.
"Buat Jesslyn, juara Grand Winner ini pertama kali, dia seneng banget. 'Pa, Ma, Jesslyn kok bisa juara 1 ya?' kata Jesslyn," cerita Fian menirukan ucapan jujur putrinya.
Kini, bayangan panggung internasional di Korea Selatan tidak sedikit pun menyurutkan keberanian bocah cilik ini.
"Setelah dikasih pandang di Korea, dia antusias sekali, dia suka," tegas Fian.
Saat melangkah di atas panggung di depan banyak orang, Jesslyn terbukti memiliki mental baja yang murni. "Saat di atas panggung dia tak merasa takut, karena mindset-nya itu tempat main dia,” kata Fian.