Massa aksi demonstrasi saat mengerumuni mobil polisi yang melintas di depan Polda DIY Jumat (29/8) petang. (Agung Dwi Prakoso/Radar Jogja)
JawaPos.com – Ruang demokrasi di Indonesia masih hidup. Itu ditandai dengan terus adanya gelombang demonstrasi dari kalangan mahasiswa di daerah Indonesia. Mereka tanpa lelah menyuarakan kritik terhadap sejumlah kebijakan pemerintah.
Pemerhati demokrasi Laksamana Sukardi mengingatkan, jika suara kritikan tidak direspons dengan sejumlah kebijakan oleh pemerintah, bukan tidak mungkin gerakan suara kritis dari mahasiswa di Indonesia menjelma seperti gerakan "cockroach" atau kecoak di India. Gerakan itu sebetulnya bernama Cockroach Janta Party (CJP).
Cockroach Janta Party tidak lahir dari ruang politik formal, melainkan muncul sebagai respons atas stigma yang diterima generasi muda. Kelompok tersebut beranggotakan anak-anak muda yang kecewa terhadap tingginya angka pengangguran, kebocoran ujian nasional, hingga buruknya tata kelola pendidikan. Sehingga mereka dicap sebagai "cockroach" atau kecoak.
"Alih-alih tersinggung lalu diam, mereka mengambil istilah itu sebagai simbol perlawanan. Mereka mengubah ejekan menjadi identitas, dan identitas menjadi gerakan nasional," kata Laksamana Sukardi mengutip pemberitaan Reuters, Selasa (28/7).
Mantan Menteri BUMN era Presiden Megawati Soekarnoputri itu menyebut bahwa Indonesia dan India memiliki sejumlah kesamaan mendasar. Di antaranya negara demokrasi terbesar di dunia dan menikmati bonus demografi dengan jumlah penduduk usia muda yang sangat besar.
Perlu diingat bahwa bonus demografi bukanlah jaminan keberhasilan, melainkan peluang yang harus dimanfaatkan melalui kebijakan yang tepat. "Bonus demografi sering disebut sebagai hadiah sejarah. Padahal sesungguhnya hanyalah sebuah peluang," tuturnya.
Jika generasi muda memperoleh akses pendidikan yang berkualitas, kesempatan kerja yang luas, dan ruang berkembang, bonus demografi akan menjadi modal besar bagi kemajuan bangsa. Sebaliknya, jika anak muda kehilangan harapan dan sulit mendapatkan pekerjaan, kondisi tersebut berpotensi memunculkan persoalan sosial, ekonomi, bahkan politik. "Penduduk muda bukan sekadar statistik. Mereka adalah investasi nasional," ucapnya.
Pelajaran paling penting dari pengalaman India bukan semata keberhasilan gerakan Cockroach, melainkan pentingnya menyediakan saluran aspirasi yang dipercaya generasi muda. "Setiap masyarakat membutuhkan mekanisme untuk menyampaikan kritik secara damai, rasional, dan konstruktif," ungkapnya.
Massa aksi demonstrasi saat mengerumuni mobil polisi yang melintas di depan Polda DIY Jumat (29/8) petang. (Agung Dwi Prakoso/Radar Jogja)
JawaPos.com – Ruang demokrasi di Indonesia masih hidup. Itu ditandai dengan terus adanya gelombang demonstrasi dari kalangan mahasiswa di daerah Indonesia. Mereka tanpa lelah menyuarakan kritik terhadap sejumlah kebijakan pemerintah.
Pemerhati demokrasi Laksamana Sukardi mengingatkan, jika suara kritikan tidak direspons dengan sejumlah kebijakan oleh pemerintah, bukan tidak mungkin gerakan suara kritis dari mahasiswa di Indonesia menjelma seperti gerakan "cockroach" atau kecoak di India. Gerakan itu sebetulnya bernama Cockroach Janta Party (CJP).
Cockroach Janta Party tidak lahir dari ruang politik formal, melainkan muncul sebagai respons atas stigma yang diterima generasi muda. Kelompok tersebut beranggotakan anak-anak muda yang kecewa terhadap tingginya angka pengangguran, kebocoran ujian nasional, hingga buruknya tata kelola pendidikan. Sehingga mereka dicap sebagai "cockroach" atau kecoak.
"Alih-alih tersinggung lalu diam, mereka mengambil istilah itu sebagai simbol perlawanan. Mereka mengubah ejekan menjadi identitas, dan identitas menjadi gerakan nasional," kata Laksamana Sukardi mengutip pemberitaan Reuters, Selasa (28/7).
Mantan Menteri BUMN era Presiden Megawati Soekarnoputri itu menyebut bahwa Indonesia dan India memiliki sejumlah kesamaan mendasar. Di antaranya negara demokrasi terbesar di dunia dan menikmati bonus demografi dengan jumlah penduduk usia muda yang sangat besar.
Perlu diingat bahwa bonus demografi bukanlah jaminan keberhasilan, melainkan peluang yang harus dimanfaatkan melalui kebijakan yang tepat. "Bonus demografi sering disebut sebagai hadiah sejarah. Padahal sesungguhnya hanyalah sebuah peluang," tuturnya.
Jika generasi muda memperoleh akses pendidikan yang berkualitas, kesempatan kerja yang luas, dan ruang berkembang, bonus demografi akan menjadi modal besar bagi kemajuan bangsa. Sebaliknya, jika anak muda kehilangan harapan dan sulit mendapatkan pekerjaan, kondisi tersebut berpotensi memunculkan persoalan sosial, ekonomi, bahkan politik. "Penduduk muda bukan sekadar statistik. Mereka adalah investasi nasional," ucapnya.
Pelajaran paling penting dari pengalaman India bukan semata keberhasilan gerakan Cockroach, melainkan pentingnya menyediakan saluran aspirasi yang dipercaya generasi muda. "Setiap masyarakat membutuhkan mekanisme untuk menyampaikan kritik secara damai, rasional, dan konstruktif," ungkapnya.