- Delegasi Arab Saudi menghadiri pemakaman Pemimpin Iran Ayatollah Ali Khamenei di Teheran pada Jumat, 3 Januari 2026.
- Kehadiran utusan Saudi dianggap sebagai langkah diplomatik signifikan untuk menjaga stabilitas regional di masa transisi kekuasaan Iran.
- Prosesi pemakaman diwarnai pembacaan ayat Al-Quran mengenai pertempuran historis yang memicu perdebatan sebagai simbol pesan politik tersirat.
Suara.com - Prosesi pemakaman mantan Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Imam Ali Khamenei, dibanjiri jutaan pelayat, baik rakyat biasa hingga utusan resmi dari negara-negara lain.
Delegasi Arab Saudi juga turut datang untuk memberikan penghormatan terakhir, meskipun negara tersebut tidak diundang oleh pemerintah Iran.
Namun, bukan hanya kehadiran fisik mereka yang memicu perdebatan, melainkan pemilihan ayat suci Al-Quran yang dilantunkan saat delegasi tersebut memberikan penghormatan terakhir.
Dikutip dari Al-Jazeera dan Tasnim News, Senin (6/7/2026), delegasi Saudi yang dipimpin oleh Wakil Menteri Luar Negeri Walid Al-Khuraiji memberikan penghormatan terakhir di hadapan peti jenazah Imam Ali Khamenei pada Jumat (3/1).
Kehadiran Walid Al-Khuraiji ini tergolong tidak terduga dan mengejutkan banyak pihak. Mengingat dinamika hubungan kedua negara yang kerap mengalami pasang surut, kehadiran utusan resmi dari Riyadh dipandang sebagai langkah diplomatik yang sangat signifikan.
Ketegangan antara kedua kekuatan besar Timur Tengah ini sebenarnya belum lama mereda. Maret lalu, Menlu Saudi Pangeran Faisal bin Farhan Al Saud, sempat mendesak Iran untuk 'menghitung ulang' strateginya setelah serangan balasan berulang kali terhadap pangkalan AS di kerajaan tersebut.
Pangeran Faisal bahkan menegaskan toleransi atas serangan terhadap negara-negara Teluk sangat terbatas.
Dengan latar belakang tersebut, kehadiran Walid Al-Khuraiji di Teheran dianggap sebagai upaya menjaga stabilitas regional di tengah masa transisi kekuasaan di Iran.
Simbolisme Ayat Al Quran dan Pertempuran Badar
Namun, suasana diplomatis tersebut sedikit terusik oleh sebuah detail yang kini viral di media sosial.
Pihak Iran, sebagai penyelenggara upacara, mengatur pembacaan ayat Al Quran secara spesifik saat delegasi Arab Saudi melintas untuk memberikan penghormatan.
Ayat yang dilantunkan oleh Qari Iran tersebut adalah surat Al Imran ayat 13, yang merujuk pada sejarah dua pasukan yang bertemu dalam Pertempuran Badr pada abad ketujuh.
Berikut terjemahan ayat Al Quran tersebut:
"Sungguh, telah ada tanda (bukti) bagimu pada dua golongan yang bertemu (dalam pertempuran). Satu golongan berperang di jalan Allah dan (golongan) yang lain kafir yang melihat dengan mata kepala bahwa mereka (golongan muslim) dua kali lipat jumlahnya. Allah menguatkan siapa yang Dia kehendaki dengan pertolongan-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat pelajaran bagi orang-orang yang mempunyai penglihatan (mata hati)."
Pemilihan ayat ini menjadi perbincangan hangat warganet di berbagai platform media sosial.
- Delegasi Arab Saudi menghadiri pemakaman Pemimpin Iran Ayatollah Ali Khamenei di Teheran pada Jumat, 3 Januari 2026.
- Kehadiran utusan Saudi dianggap sebagai langkah diplomatik signifikan untuk menjaga stabilitas regional di masa transisi kekuasaan Iran.
- Prosesi pemakaman diwarnai pembacaan ayat Al-Quran mengenai pertempuran historis yang memicu perdebatan sebagai simbol pesan politik tersirat.
Banyak warganet menganggap pembacaan ayat ini bukanlah sebuah kebetulan, melainkan pesan tersirat atau "sentilan" dari Teheran kepada Riyadh.
Narasi yang berkembang di dunia maya menyebut bahwa Iran sedang mengingatkan Saudi tentang posisi mereka dalam peta ideologi dan kekuatan militer di kawasan.
Ayat tersebut secara historis menggambarkan kemenangan kelompok kecil yang beriman atas kelompok besar, yang dalam konteks saat ini sering diterjemahkan secara bebas sebagai simbol perlawanan terhadap kekuatan yang dianggap beraliansi dengan Barat.
Kehadiran Tokoh Dunia dan Simbol Perlawanan
Selain delegasi Arab Saudi, upacara ini juga dihadiri oleh sederet tokoh internasional penting. Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif terlihat hadir, mewakili negara yang selama ini berperan sebagai mediator antara Iran dan Amerika Serikat.
Rusia juga menunjukkan dukungan kuatnya dengan mengirimkan mantan presiden Dmitry Medvedev, yang kini menjabat sebagai wakil kepala dewan keamanan Rusia, sebagai utusan khusus Presiden Vladimir Putin.
Kelompok-kelompok yang menjadi bagian dari "Poros Perlawanan" juga tidak ketinggalan mengirimkan utusan mereka.
Delegasi dari kelompok milisi Palestina, Hamas, dan kelompok milisi Lebanon, Hizbullah—yang keduanya mendapat dukungan penuh dari Teheran—tampak hadir memberikan penghormatan.
Bahkan, perwakilan dari pemerintah Taliban di Afghanistan juga terlihat dalam barisan tamu internasional.
Indonesia sendiri mengutus Duta Besar RI di Teheran sebagai bentuk penghormatan diplomatik atas wafatnya pemimpin tertinggi negara sahabat tersebut.
Prosesi Enam Hari dan Sinyal Balas Dendam
Televisi pemerintah Iran melaporkan, prosesi pemakaman ini akan berlangsung selama enam hari.
Jenazah rencananya akan dibawa ke Irak untuk disemayamkan di beberapa situs suci sebelum akhirnya dimakamkan secara permanen. Di Teheran, suasana duka bercampur dengan semangat perlawanan.
Dilansir kantor berita AFP, ribuan pelayat berkumpul di Grand Mosalla dengan membawa spanduk berwarna merah.
Dalam tradisi Islam mazhab Syiah, warna merah adalah simbol kemartiran sekaligus seruan untuk menuntut balas atas kematian seorang pemimpin.
Dinding kompleks Grand Mosalla dipenuhi dengan potret besar Khamenei, berdampingan dengan bendera hitam tanda berkabung dan bendera merah yang menyala.
Ratusan orang dilaporkan telah berkumpul di luar tempat prosesi sejak pagi buta. Beberapa orang menangis histeris, sementara yang lain duduk dengan sabar di trotoar sambil memanjatkan doa.
Atmosfer di Teheran saat ini menunjukkan betapa besarnya pengaruh Ali Khamenei bagi rakyat Iran, sekaligus menjadi panggung bagi Iran untuk menunjukkan posisi politiknya di mata dunia internasional melalui simbol-simbol keagamaan dan militer yang kental.