Harita Nickel Kembangkan Pendekatan Pengelolaan Tailing Sesuai Karakteristik Indonesia

Harita Nickel Kembangkan Pendekatan Pengelolaan Tailing Sesuai Karakteristik Indonesia

Suara.com - Pengelolaan tailing menjadi salah satu tantangan terbesar dalam perkembangan industri pengolahan nikel berbasis High Pressure Acid Leaching (HPAL). Besarnya volume sisa hasil pengolahan, ditambah karakteristik Indonesia yang memiliki curah hujan tinggi dan rawan gempa membuat penerapan sistem penyimpanan membutuhkan pendekatan yang berbeda dibandingkan negara lain. Di sisi lain, kondisi tersebut juga mendorong lahirnya berbagai inovasi, baik dalam pengelolaan maupun pemanfaatan sisa hasil pengolahan di masa depan.

“Dry stacking memang telah terbukti diterapkan di berbagai negara, tetapi mengoperasikannya secara aman di wilayah tropis dengan curah hujan tinggi dan aktivitas seismik seperti Indonesia membutuhkan perpaduan teknologi dan keahlian yang sangat spesifik," ujar VP of ESG Transformation Harita Nickel, Zahedi Zakaria.  

Pada umumnya, kadar nikel dalam bijih limonit hanya berkisar 0,8–1,5 persen. Artinya, sebagian besar material yang diolah akan menjadi sisa hasil pengolahan setelah kandungan nikelnya dipisahkan. Besarnya volume tersebut membuat pengelolaan tailing menjadi salah satu aspek paling krusial dalam operasional fasilitas HPAL.

Filter press untuk memisahkan fraksi padat dan cair dari tailing HPAL. (Dok: Harita Nickel)
Filter press untuk memisahkan fraksi padat dan cair dari tailing HPAL. (Dok: Harita Nickel)

Salah satu pendekatan yang kini semakin banyak diterapkan dalam pengelolaan tailing adalah Dry Stack Tailings (DST). Berbeda dengan metode penyimpanan tailing konvensional, DST menempatkan tailing yang telah melalui proses pengurangan kadar air (dewatering) sehingga memiliki karakteristik yang lebih stabil untuk ditata dan dipadatkan secara bertahap. Pendekatan ini dinilai mampu meningkatkan aspek keselamatan sekaligus mendukung pengelolaan tailing yang lebih bertanggung jawab.

Namun, berbeda dengan banyak negara lain yang telah lebih dahulu menerapkan pendekatan ini, Indonesia memiliki karakteristik berupa curah hujan tinggi, iklim tropis, serta aktivitas kegempaan yang tinggi. Kondisi tersebut membuat penerapan dry stacking di Indonesia tidak cukup hanya mengadopsi teknologi yang telah digunakan di negara lain.

Sebagai salah satu perusahaan yang menerapkan DSTF, Harita Nickel mengembangkan pendekatan yang tidak hanya mengandalkan sistem filtrasi. Menurut Zahedi, fasilitas tersebut juga didukung pengelolaan kadar air, rekayasa penempatan dan pemadatan material, sistem pengelolaan air yang efektif, serta pemantauan geoteknik secara berkelanjutan guna menjaga kinerja fasilitas dalam jangka panjang.

"Kami tidak sekadar membeli teknologi yang sudah tersedia di pasar. Kami mengembangkan solusi pengelolaan kadar air (moisture management) dan metode pemadatan material yang harus dapat bekerja secara optimal, bahkan dalam kondisi musim hujan dengan curah hujan tinggi." kata Zahedi.

Tantangan lainnya adalah proses lokalisasi pengetahuan dan pengembangan kapasitas operator. Menurutnya, operator perlu membangun keahlian teknis di dalam perusahaan, tidak hanya bergantung pada kontraktor eksternal. Ia juga menilai semakin cepat pelaku industri berbagi pengalaman dan pengetahuan yang sesuai dengan karakteristik lokal, semakin cepat pula dry stacking dapat menjadi standar dalam pengelolaan tailing di Indonesia.

Filter press untuk memisahkan fraksi padat dan cair dari tailing HPAL. (Dok: Harita Nickel)
Filter press untuk memisahkan fraksi padat dan cair dari tailing HPAL. (Dok: Harita Nickel)

Sirkular Ekonomi

Zahedi turut menjelaskan, pengelolaan sisa hasil pengolahan perlu diarahkan pada pendekatan yang lebih sirkular.

Harita Nickel saat ini tengah mengeksplorasi berbagai potensi pemanfaatan sisa hasil pengolahan HPAL seperti pengembangan fasilitas yang memungkinkan pemanfaatan kandungan besi yang masih terdapat pada tailing sebagai bahan baku bernilai tambah. Pendekatan ini tidak hanya mengurangi volume sisa hasil pengolahan yang perlu dikelola, tetapi juga turut berkontribusi pada pengurangan emisi karbon.

"Sebagai industri, kita perlu berhenti memandang sisa hasil pengolahan HPAL hanya sebagai material yang harus disimpan, dan mulai melihatnya sebagai sumber daya yang dapat dimanfaatkan. Alternatif terbaik dari penyimpanan adalah ekonomi sirkular," katanya. ***