Jakarta, Beritasatu.com – Harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) diperkirakan kembali menguat pada perdagangan pekan ini seiring meningkatnya ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran di kawasan Timur Tengah.
Analis mata uang dan komoditas Ibrahim Assuaibi mengatakan konflik geopolitik di Timur Tengah masih menjadi salah satu faktor utama yang mendorong kenaikan harga minyak mentah dunia.
Menurut dia, harga minyak WTI diperkirakan bergerak dalam rentang US$ 80,50 hingga US$ 96 per barel pada pekan ini.
"Kita melihat bahwa permasalahan geopolitik di Timur Tengah terus dijadikan sebagai acuan terhadap memanasnya harga minyak dunia. (Baru-baru ini) Amerika Serikat dan Israel dilaporkan sedang mempersiapkan pengeboman besar-besaran terhadap infrastruktur energi Iran minggu depan," kata Ibrahim dalam keterangannya.
Ibrahim menilai ketegangan tersebut berpotensi meningkatkan kekhawatiran pasar terhadap gangguan pasokan minyak dunia. Kondisi tersebut dapat mendorong harga minyak mentah semakin tinggi apabila distribusi energi global ikut terganggu.
Selain konflik AS dan Iran, keterbatasan jalur transportasi energi juga menjadi perhatian pasar.
"Sementara itu, hingga saat ini Laut Merah masih diblokade yang berperan sebagai salah satu jalur transportasi untuk minyak mentah di Arab Saudi. Kemudian juga transportasi di Selat Hormuz masih terbatas," ujar Ibrahim.
Pada perdagangan Jumat (31/7/2026), harga minyak dunia ditutup menguat lebih dari 1%. Harga minyak Brent untuk kontrak Oktober naik US$ 1,09 atau 1,2% menjadi US$ 90,12 per barel.
Kenaikan tersebut sekaligus menjadi penguatan bulanan terbesar harga minyak sejak Maret 2026. Pergerakan harga dipengaruhi kekhawatiran pasar terhadap kelancaran pasokan minyak global akibat gangguan distribusi energi melalui Selat Hormuz.
Sementara itu, harga minyak mentah WTI juga mengalami penguatan. Minyak WTI naik US$ 1,08 atau 1,3% menjadi US$ 84,67 per barel.
Perkembangan harga tersebut menunjukkan pasar masih sensitif terhadap risiko geopolitik dan potensi gangguan pasokan energi. Apabila ketegangan di Timur Tengah terus meningkat, tekanan terhadap harga minyak dunia berpotensi berlanjut pada pekan ini.