5 Gejala Kamu Mengidap Money Dysmorphia, Kenali Tandanya

5 Gejala Kamu Mengidap Money Dysmorphia, Kenali Tandanya

ilustrasi menghitung uang (pexels.com/Tima Miroshnichenko)
  • Money dysmorphia adalah pandangan keliru terhadap kondisi finansial, yang membuat seseorang merasa selalu kekurangan meski kebutuhan, penghasilan, tabungan, atau asetnya sebenarnya memadai.
  • Gejalanya mencakup kecemasan berlebihan soal uang, kebiasaan membandingkan diri dengan gaya hidup orang lain di media sosial, serta obsesi memeriksa saldo dan mengejar lebih banyak uang.
  • Kondisi ini juga dapat terlihat dari penolakan realitas keuangan, baik merasa lebih miskin maupun lebih kaya dari keadaan sebenarnya; evaluasi berdasarkan data pemasukan, pengeluaran, tabungan, utang, dan aset diperlukan.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Istilah money dysmorphia belakangan banyak dibahas untuk menggambarkan kondisi ketika seseorang memiliki pandangan yang tidak sesuai dengan kondisi keuangannya sendiri. Seseorang yang mengalaminya bisa merasa dirinya tidak cukup kaya, meski secara finansial sebenarnya berada dalam kondisi yang baik. Kondisi ini dapat memengaruhi cara seseorang melihat dirinya, mengambil keputusan keuangan, hingga menjalani kehidupan sehari-hari.

Money dysmorphia juga bisa membuat seseorang terus merasa kurang dan cemas terhadap uang tanpa alasan yang jelas. Perasaan tersebut sering muncul karena kebiasaan membandingkan kondisi finansial dengan orang lain atau standar kehidupan yang terlihat di media sosial. Lantas, apa saja gejala money dysmorphia yang perlu kamu kenali?

1. Selalu merasa kurang secara finansial

Ilustrasi uang rupiah
Ilustrasi uang rupiah (pexels.com/Ahsanjaya)

Salah satu gejala money dysmorphia adalah selalu merasa kondisi keuangan masih kurang, meski sebenarnya kebutuhan sehari-hari sudah terpenuhi. Kamu mungkin memiliki tabungan, penghasilan yang stabil, atau bahkan aset tertentu, tetapi tetap merasa belum cukup aman secara finansial.

Perasaan ini bisa membuat kamu terus mengejar lebih banyak uang tanpa merasa puas dengan pencapaian yang sudah ada. Setiap kali mendapatkan penghasilan tambahan, muncul target baru yang membuat rasa cukup semakin sulit dirasakan.

Masalahnya, perasaan selalu kurang dapat membuat kamu sulit menikmati hasil kerja keras sendiri. Kamu mungkin terus berpikir bahwa kondisi finansial baru akan terasa aman jika sudah memiliki jumlah uang tertentu, padahal batas tersebut terus berubah.

2. Cemas berlebihan soal uang

ilustrasi stres masalah keuangan
ilustrasi stres masalah keuangan (pexels.com/www.kaboompics.com)

Memikirkan kondisi keuangan memang wajar, terutama ketika ada kebutuhan penting yang harus dipenuhi. Namun, kecemasan yang muncul secara berlebihan meski kondisi keuangan sebenarnya cukup bisa menjadi tanda yang perlu diperhatikan.

Misalnya, kamu terus merasa takut kehilangan uang, khawatir akan jatuh miskin, atau panik ketika melihat saldo rekening berkurang sedikit. Bahkan, pengeluaran yang sebenarnya masih masuk dalam kemampuan finansial bisa membuat kamu merasa sangat bersalah atau takut.

Jika rasa cemas ini terus muncul dan mengganggu aktivitas sehari-hari, kamu perlu mulai mengevaluasi cara pandang terhadap uang. Keuangan seharusnya menjadi alat untuk menunjang kehidupan, bukan sumber ketakutan yang muncul setiap saat.

3. Sering membandingkan diri dengan orang lain

ilustrasi pinjam uang
ilustrasi pinjam uang (pexels.com/Defrino Maasy)

Media sosial bisa membuat kamu melihat gaya hidup orang lain setiap hari. Ketika melihat teman atau orang lain membeli rumah, mobil, barang bermerek, atau pergi berlibur, kamu mungkin langsung merasa tertinggal secara finansial.

Padahal, apa yang terlihat di media sosial belum tentu menggambarkan kondisi keuangan seseorang secara keseluruhan. Kamu tidak tahu apakah barang tersebut dibeli secara tunai, dicicil, atau bahkan hanya digunakan untuk kebutuhan tertentu.

Kebiasaan membandingkan diri secara terus-menerus dapat membuat kamu menganggap pencapaian orang lain sebagai standar pribadi. Akibatnya, kondisi finansial sendiri terasa kurang baik meski sebenarnya sudah cukup untuk memenuhi kebutuhan dan tujuan hidup.

4. Terobsesi dengan kondisi finansial

Ilustrasi uang rupiah
Ilustrasi uang rupiah (pexels.com/Defrino Maasy)

Memperhatikan keuangan merupakan kebiasaan yang baik, tetapi bisa menjadi masalah jika uang mulai memenuhi hampir seluruh pikiran kamu. Kamu mungkin terlalu sering memeriksa saldo, menghitung kekayaan, memikirkan investasi, atau mencari cara untuk mendapatkan lebih banyak uang.

Dalam kondisi tertentu, obsesi tersebut bisa membuat kamu sulit menikmati waktu bersama keluarga, teman, atau melakukan aktivitas yang sebenarnya kamu sukai. Pikiran terus berpusat pada pertanyaan apakah uang yang dimiliki sudah cukup atau belum.

Kondisi ini juga bisa membuat keputusan finansial menjadi tidak seimbang. Kamu mungkin terlalu takut mengeluarkan uang untuk kebutuhan yang sebenarnya penting karena merasa harus terus mengumpulkan lebih banyak.

5. Menolak realitas kondisi keuangan sendiri

Ilustrasi uang rupiah
Ilustrasi uang rupiah (pexels.com/Ahsanjaya)

Gejala lain yang perlu diperhatikan adalah ketika seseorang sulit menerima kondisi keuangan yang sebenarnya. Penolakan ini bisa muncul dalam dua bentuk, yaitu merasa jauh lebih miskin atau merasa jauh lebih kaya daripada keadaan yang sesungguhnya.

Kamu mungkin merasa sangat kekurangan meski memiliki kondisi finansial yang stabil. Sebaliknya, ada juga kemungkinan seseorang merasa mampu membeli berbagai hal tanpa mempertimbangkan kemampuan finansial sebenarnya.

Cara pandang seperti ini dapat memengaruhi keputusan dalam mengatur uang. Karena itu, penting untuk melihat kondisi keuangan berdasarkan data nyata, seperti pemasukan, pengeluaran, tabungan, utang, dan aset, bukan hanya berdasarkan perasaan atau perbandingan dengan orang lain.

Mengenali gejala money dysmorphia penting agar kamu bisa memahami hubungan antara kondisi finansial dan cara pandang terhadap uang. Selalu merasa kurang, cemas berlebihan, suka membandingkan diri, terobsesi dengan finansial, hingga menolak realitas keuangan bisa menjadi tanda bahwa cara kamu melihat uang perlu dievaluasi.

Jika perasaan tersebut sudah mengganggu kehidupan sehari-hari atau membuat kamu sulit mengambil keputusan finansial secara sehat, jangan ragu untuk mencari bantuan dari tenaga profesional yang sesuai. Memiliki kondisi keuangan yang sehat bukan hanya tentang jumlah uang yang dimiliki, tetapi juga tentang kemampuan untuk merasa aman dan realistis dalam mengelolanya.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.