Dokter Peringatkan Bahaya Tren Cairan Infus untuk Jerawat, Bisa Tinggalkan Bekas Permanen

Dokter Peringatkan Bahaya Tren Cairan Infus untuk Jerawat, Bisa Tinggalkan Bekas Permanen

KOMPAS.com – Tren penggunaan NaCl atau cairan infus untuk mengatasi jerawat belakangan ramai di media sosial. Banyak pengguna mengklaim wajah menjadi lebih bersih dan jerawat membaik hanya dengan mengoleskan cairan tersebut secara rutin.

Namun, dokter spesialis kulit mengingatkan masyarakat agar tidak terburu-buru mengikuti tren tersebut.

Hingga kini, belum ada bukti ilmiah yang menunjukkan bahwa normal saline dapat mengobati jerawat. Sebaliknya, terlalu lama mengandalkan metode yang belum terbukti justru berisiko membuat jerawat semakin parah hingga meninggalkan bekas permanen.

Dokter Spesialis Dermatologi, Venereologi, dan Estetika Rumah Sakit Abdi Waluyo, dr. Arini Astasari Widodo, Sp.

KK, mengatakan, risiko terbesar dari penggunaan NaCl sebagai terapi jerawat bukan terletak pada cairannya, melainkan pada keterlambatan mendapatkan pengobatan yang memang terbukti efektif.

Risiko terbesar bukan NaCl, tetapi terlambat berobat

Dalam wawancara dengan Kompas.com pada Kamis (16/7/2026), Arini menjelaskan bahwa penggunaan normal saline steril 0,9 persen relatif aman pada kulit karena merupakan larutan isotonik yang menyerupai cairan tubuh.

Larutan ini memang kerap digunakan dalam dunia medis untuk membersihkan luka, mengompres kulit, atau membilas area setelah tindakan dermatologi.

Meski demikian, ia menegaskan bahwa fungsi tersebut berbeda dengan mengobati jerawat.

"Jika menggunakan normal saline steril, risikonya relatif kecil, tetapi penggunaan rutin tetap tidak memberikan manfaat yang terbukti untuk jerawat," ujar dr. Arini.

Menurut dia, bahaya justru muncul ketika seseorang terus mengandalkan tren viral dan menunda terapi yang sesuai dengan kondisi jerawatnya.

"Risiko terbesar adalah menunda terapi yang memang terbukti efektif, sehingga jerawat menjadi semakin berat dan akhirnya meninggalkan bekas luka permanen (acne scar) yang jauh lebih sulit diatasi," kata Arini.

Air garam racikan tidak bisa disamakan dengan cairan infus

Ilustrasi jerawat di alis. Ramai tren memakai cairan infus atau NaCl untuk jerawat di media sosial, tetapi dokter mengingatkan bahwa risiko terbesarnya justru keterlambatan pengobatan yang dapat memicu bekas jerawat permanen.
Ilustrasi jerawat di alis. Ramai tren memakai cairan infus atau NaCl untuk jerawat di media sosial, tetapi dokter mengingatkan bahwa risiko terbesarnya justru keterlambatan pengobatan yang dapat memicu bekas jerawat permanen.

Arini juga mengingatkan masyarakat agar tidak menyamakan normal saline steril dengan air garam yang dibuat sendiri di rumah.

Ia menjelaskan bahwa air garam racikan memiliki konsentrasi yang belum tentu tepat dan tidak steril sehingga justru dapat meningkatkan risiko gangguan pada kulit.

"Sebaliknya, bila menggunakan air garam dengan konsentrasi tinggi atau racikan sendiri, risikonya dapat meningkat, antara lain kulit menjadi lebih kering, iritasi dan rasa perih, gangguan skin barrier sehingga kulit lebih sensitif, memperberat eksim, rosacea, atau dermatitis pada individu yang rentan, serta meningkatkan risiko kontaminasi bila larutan tidak steril," jelasnya.

Karena itu, Arini mengingatkan masyarakat agar tidak menganggap semua cairan garam memiliki fungsi yang sama hanya karena sama-sama mengandung natrium klorida.