Cerita Hari Pertama Masuk Sekolah di Sebatik, Kakek Gendong Cucu Terjang Banjir demi Tetap Belajar

Cerita Hari Pertama Masuk Sekolah di Sebatik, Kakek Gendong Cucu Terjang Banjir demi Tetap Belajar

NUNUKAN, KOMPAS.com – Sebuah video seorang laki laki yang memanggul murid SD di tengah banjir yang terjadi di Pulau Sebatik, Nunukan, Kalimantan Utara, Senin (13/7/2026), menjadi pemandangan miris di hari pertama masuk sekolah usai liburan panjang kenaikan kelas.

Video yang banyak dibagikan di medsos tersebut, memperlihatkan seorang laki-laki tanpa mengenakan baju memanggul murid SD di pundaknya.

Ia berusaha keras melewati jalan yang tergenang sedalam pahanya.

Sesekali tubuhnya terlihat tak stabil dan hampir jatuh, namun gerakan tangannya tetap berupaya agar tubuhnya menjadi seimbang dan anak di atas pundaknya tak terjatuh, atau kotor terkena banjir.

Setelah sampai di salah satu pintu masuk gedung sekolah, si bocah diturunkan, dan lelaki tersebut tersenyum puas dan kembali melewati jalanan terendam banjir yang sebelumnya dilewati.

"Itu video Pak Juhardin yang menggendong cucunya saat hari pertama sekolah. Lokasinya di SDN 004 Sei Limau, Sebatik Tengah,’’ ujar si pengunggah video, Ismail, saat dihubungi, Senin (13/7/2026).

Sebatik diguyur hujan deras

Ismail mengatakan, ada beberapa orang tua juga melakukan hal serupa.

Mereka memanggul anaknya menuju sekolah di tengah kepungan banjir yang melanda pulau Sebatik.

Ia menuturkan, Pulau Sebatik diguyur hujan deras pada Senin (13/7/2026) mulai pukul 02.00 sampai pukul 05.00 Wita.

Kendati demikian, pihak sekolah tidak ada pengumuman libur, sehingga orang tua banyak yang menggendong anaknya, diantar ke sekolah.

"Para orang tua tak ingin semangat belajar anaknya terkendala banjir. Sehingga selama proses belajar mengajar masih berlangsung, mereka berusaha agar anaknya tetap sekolah meski saat ini, sebagian besar Pulau Sebatik mengalami banjir," kata dia.

Di wilayah Kecamatan Sebatik Tengah, banjir menggenangi sejumlah daerah, di antaranya, Desa Maspul, Desa Bukit Harapan, Desa Aji Kuning dan Sei Limau.

Arus banjir, bahkan sempat menghanyutkan pondokan ibu penjual ikan yang memaksanya harus mengungsi dan menumpang tinggal di rumah keluarganya.

"Kalau yang terdalam sekitar 1,5 meteran. Tapi arusnya lumayan deras. Pondokan yang ditempati ibu ibu penjual ikan hanyut," kata Ismail menyertakan kiriman video banjir yang menghanyutkan sebagian pondokan tempat berjualan ikan.

Menurut Ismail, banjir yang melanda Pulau Sebatik kali ini, merupakan banjir terparah sejak 2012.