KOMPAS.com - OnePlus dikabarkan akan menghentikan operasinya di Amerika Serikat (AS) dan sejumlah negara Eropa pada pekan ini.
Jika laporan tersebut benar, langkah itu berpotensi mengakhiri perjalanan OnePlus sebagai merek smartphone global yang selama lebih dari satu dekade dikenal sebagai "flagship killer".
Laporan tersebut pertama kali diungkap media Jerman WinFuture dan kemudian dikutip sejumlah media teknologi, termasuk Android Police, GSMArena, Droid-Life, hingga The Verge.
Menurut laporan itu, induk perusahaan OnePlus, Oppo, disebut akan mengumumkan keputusan tersebut dalam beberapa hari ke depan.
Hingga berita ini ditulis, OnePlus belum memberikan pernyataan resmi mengenai kabar tersebut. The Verge melaporkan perusahaan juga belum menanggapi permintaan komentar terkait rumor tersebut.
Lanjutan rumor restrukturisasi
Rumor hengkangnya OnePlus dari pasar AS dan Eropa sebenarnya bukan yang pertama muncul tahun ini.
Pada Januari lalu, sejumlah media teknologi di AS melaporkan bahwa OnePlus tengah menjalani proses restrukturisasi besar.
Saat itu, OnePlus membantah kabar tersebut dan menegaskan bahwa operasional di Amerika Utara, termasuk layanan purna jual dan pembaruan perangkat lunak, tetap berjalan normal.
Namun, berbagai laporan setelahnya kembali memunculkan spekulasi serupa.
Pada Maret lalu, OnePlus juga dikabarkan akan mengurangi kehadirannya di pasar global. Kemudian pada April, muncul laporan sejumlah petinggi OnePlus di Eropa dan Inggris meninggalkan perusahaan.
Saat itu, OnePlus mengatakan sedang mengevaluasi peta jalan regional dan strategi produknya di kawasan tersebut.
Belum lama ini, juga beredar laporan bahwa Oppo akan menyatukan sistem operasi seluruh mereknya di bawah ColorOS. Jika terealisasi, OxygenOS milik OnePlus disebut akan dipensiunkan sebagai bagian dari konsolidasi bisnis.
Fokus ke China dan India?
Menurut laporan WinFuture yang dikutip sejumlah media, OnePlus disebut akan tetap dipertahankan di China dan India, tetapi posisinya lebih sebagai lini produk di bawah Oppo dibandingkan merek global yang berdiri sendiri.
Belum diketahui apakah keputusan tersebut juga akan memengaruhi peluncuran perangkat OnePlus di pasar lain, termasuk Asia Tenggara.
OnePlus didirikan pada 2013 dan mulai dikenal luas setelah meluncurkan OnePlus One pada 2014 dengan slogan "Never Settle". Saat itu perusahaan menawarkan spesifikasi kelas flagship dengan harga yang jauh lebih murah dibanding pesaing seperti Samsung dan Apple.
Dalam beberapa tahun terakhir, OnePlus semakin terintegrasi dengan Oppo, mulai dari penggabungan tim riset dan pengembangan, hingga penyatuan basis kode OxygenOS dan ColorOS.
Apabila kabar hengkang dari AS dan Eropa benar terjadi, maka langkah tersebut akan menjadi perubahan terbesar dalam sejarah OnePlus sekaligus menandai berakhirnya ekspansi global merek tersebut yang telah berlangsung lebih dari satu dekade
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang