LAMONGAN, KOMPAS.com - Di sudut Desa Sekaran, Kecamatan Sekaran, Kabupaten Lamongan, sebuah pasar tradisional menjadi titik awal perubahan.
Dulu, Pasar Sekaran dikelola pihak swasta melalui sistem tebasan. Kini, pasar itu menjadi mesin utama yang menggerakkan roda ekonomi desa melalui Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Sekar Sejahtera.
Perjalanan menuju titik itu tak selalu mulus.
BUMDes yang kini menyumbang lebih dari 40 persen Pendapatan Asli Desa (PADes) atau sekitar Rp 325 juta per tahun itu pernah merasakan pahitnya kegagalan saat mencoba mengembangkan usaha wisata.
Direktur BUMDes Sekar Sejahtera, Basuki Rachmat, masih mengingat bagaimana beratnya membangun usaha desa dari nol.
"Iya mas, dulu awal merintis ini berat. Pasar Sekaran ini dulu awalnya dikelola pihak swasta, dibeli tahunan. Nah, mulai dari sana Pemdes dan pemuda-pemuda di desa bersepakat membentuk BUMDes," ujar Basuki saat ditemui Kompas.com, Minggu (2/8/2026).
Guru Madrasah Aliyah (MA) Fathul Hidayah Maduran itu kemudian dipercaya memimpin BUMDes.
Bersama pengurus lainnya, ia perlahan mengembangkan berbagai unit usaha dengan memanfaatkan potensi desa.
Kini, BUMDes Sekar Sejahtera mengelola lima unit usaha, yakni Pasar Sekaran, Air Tirta Sekaran Makmur (TSM), Tempat Pengelolaan Sampah (TPS), sektor jasa, serta rintisan kebun melon dan anggur.
Di antara seluruh unit usaha itu, Pasar Sekaran menjadi penyumbang pendapatan terbesar. Sementara unit air bersih TSM secara konsisten menyetor sekitar Rp 50 juta hingga Rp 60 juta setiap tahun.
Pernah Jatuh karena Wisata
Kesuksesan itu tak membuat Basuki lupa pada satu babak yang justru menjadi pelajaran paling berharga.
BUMDes pernah mencoba peruntungan di sektor pariwisata melalui wahana Wisata Edukasi Wikes Sekaran. Harapannya sederhana, menghadirkan destinasi baru sekaligus membuka sumber pendapatan baru bagi desa.
Namun kenyataan berbicara lain. Pengunjung hanya memadati lokasi pada bulan pertama. Setelah itu jumlahnya terus menurun, lalu pandemi Covid-19 datang memperburuk keadaan.
"Dulu sempat buka bisnis Wisata Edukasi 'Wikes Sekaran'. Tapi tidak dilanjutkan, karena masih kurangnya animo warga sekitar dan setelah itu bebarengan Covid. Jadi hanya ramai satu bulan pertama, setelah itu merosot terus," ungkap Basuki.