KOMPAS.com - Selama ini kopi identik dengan satu fungsi utama: bikin melek.
Tapi ternyata, secangkir kopi yang biasa kamu minum punya pengaruh yang jauh lebih dalam, sampai ke suasana hati dan cara otak bekerja.
Dalam riset terbaru yang terbit di jurnal Nature Communications, kopi disebut mengandung ratusan senyawa aktif secara biologis, termasuk polifenol, alkaloid, dan zat mirip serat yang berinteraksi dengan sistem pencernaan.
Studi ini menunjukkan bahwa kopi turut memengaruhi fungsi mental dengan cara mengubah mikrobioma usus serta sinyal kimia yang berlalu-lalang antara saluran pencernaan dan otak.
Meski temuan ini belum membuktikan kopi dapat mengobati depresi, kecemasan, atau gangguan kognitif, hasil penelitian menunjukkan bahwa efek psikologis kopi lebih rumit dibandingkan sekadar stimulasi sementara dari kafein.
Jalur Komunikasi Usus dan Otak
Saluran pencernaan dan otak berkomunikasi secara terus-menerus melalui apa yang disebut ilmuwan sebagai gut-brain axis atau poros usus-otak.
Jaringan dua arah ini mencakup saraf vagus, sistem imun, hormon, metabolit mikroba, serta senyawa terkait neurotransmiter.
Bakteri usus membantu memproses komponen makanan dan menghasilkan zat yang dapat memengaruhi peradangan, respons stres, suasana hati, hingga kognisi.
Meski begitu, bukan berarti bakteri tertentu secara langsung menentukan perasaan atau cara berpikir seseorang, karena mikrobioma merupakan ekosistem kompleks yang dibentuk oleh pola makan, obat-obatan, tidur, stres, genetik, dan berbagai faktor lain.
Kopi menjadi kandidat yang menarik karena mengandung senyawa yang mencapai usus besar, tempat senyawa tersebut dapat dimetabolisme oleh mikroba usus.
Polifenol dan senyawa hasil pemanggangan biji kopi diperkirakan berperan mirip prebiotik yang menjadi substrat bagi mikroba tertentu.
Metode Penelitian
Dikutip dari Psychology Today, peneliti dari University College Cork membandingkan 31 peminum kopi rutin dengan 31 orang yang tidak rutin mengonsumsi kopi.
Peminum kopi rutin dalam studi ini umumnya mengonsumsi tiga hingga lima cangkir per hari.
Para partisipan menjalani serangkaian pengukuran terkait suasana hati, stres, impulsivitas, atensi, memori, dan aspek kognisi lainnya.
Peneliti juga menganalisis sampel tinja dan urine untuk mempelajari bakteri usus serta metabolit terkait kopi.