CILACAP, KOMPAS.com – Tak banyak yang menyangka, sekitar 10 menit berjalan kaki dari Stasiun Cilacap, Jawa Tengah, berdiri sebuah angkringan yang menawarkan lebih dari sekadar kopi dan wedang jahe.
Namanya Angkringan Pinondang. Tempat ini baru diresmikan sekitar tiga pekan lalu dan berada di kompleks Griya Abhipraya Pinondang, Balai Pemasyarakatan (Bapas) Kelas II Nusakambangan.
Nama Nusakambangan selama ini identik dengan pulau penjara berpengamanan tinggi. Namun, Bapas Nusakambangan justru berada di daratan Kota Cilacap.
Di sinilah proses reintegrasi sosial dimulai, ketika para napi dipersiapkan kembali hidup berdampingan dengan masyarakat.
Suasana itu langsung terasa saat sampai di lokasi. Aroma wedang jahe yang baru diseduh berpadu dengan kopi lokal menyambut pengunjung.
Musik mengalun pelan, sementara beberapa orang berbincang santai layaknya berada di angkringan pada umumnya.
Sulit membayangkan bahwa ruang hangat itu merupakan bagian dari institusi pemasyarakatan.
Namun, justru di sanalah misi besarnya dimulai.
Menghapus Stigma Lewat Secangkir Kopi
Angkringan Pinondang dibangun bukan sekadar menjadi tempat makan dan minum.
Di balik konsep sederhana itu, Bapas Nusakambangan ingin memperkenalkan proses pembimbingan klien pemasyarakatan sekaligus menghapus stigma yang selama ini melekat pada mereka.
Di salah satu sudut ruangan, berbagai produk hasil karya warga binaan dari sejumlah lembaga pemasyarakatan di Nusakambangan dipajang rapi.
Mulai dari kopi, aneka produk olahan pangan, kerajinan tangan, hingga es krim Nibaya berbahan dasar singkong yang telah menjadi salah satu produk unggulan.
Di bagian belakang bangunan terdapat ruang produksi Jaheku, minuman herbal yang dibuat dari jahe emprit dan jahe merah.
Produk tersebut merupakan hasil program pembimbingan kemandirian yang dijalankan Bapas bersama para klien pemasyarakatan, termasuk klien anak.
Selain Jaheku, Bapas juga mengembangkan telur omega hasil pemberdayaan klien serta kopi dari kawasan Majenang yang dipasarkan melalui jejaring Bapas.
Kepala Bapas Kelas II Nusakambangan RM Dwi Ananto mengatakan Angkringan Pinondang sengaja dirancang sebagai ruang pertemuan antara masyarakat dengan berbagai program pembimbingan yang selama ini berjalan.