WONOGIRI, KOMPAS.com – Warga Desa Manjung, Kabupaten Wonogiri, mendesak Pondok Pesantren (Ponpes) Santri Manjung ditutup meski seluruh santri telah mengundurkan diri setelah pendirinya, Bripka E, terjerat kasus dugaan asusila.
Sekretaris Desa Manjung, Exsanuri, mengatakan tuntutan penutupan tidak hanya dipicu perkara yang menjerat Bripka E. Menurut dia, warga sudah lama merasa terganggu oleh berbagai aktivitas pondok yang berulang kali memunculkan keluhan.
"Sama, mintanya warga ditutup karena meresahkan. Sudah ada beberapa kali kejadian yang membuat warga resah, tidak hanya sekali ini," ujar Exsanuri dilansir dari TribunSolo, Rabu (22/7/2026).
Ponpes Kini Tak Lagi Beraktivitas
Exsanuri memastikan seluruh santri telah meninggalkan Ponpes Santri Manjung.
Hingga Rabu (22/7/2026), tidak ada lagi kegiatan belajar maupun aktivitas santri di lingkungan pondok.
"Sudah kosong, kemarin Selasa (21/7/2026) ada santri yang ke situ mengurus perpindahannya," katanya.
"Mengundurkan diri dari situ. Kosong, tidak ada aktivitas, seluruh santri sudah tidak ada, mengundurkan diri," tambah Exsanuri.
Menurut dia, keputusan para santri keluar dari pondok terjadi setelah kasus dugaan asusila yang menjerat Bripka E mencuat ke publik.
Warga Keluhkan Aktivitas hingga Larut Malam
Sebelum kasus terbaru mencuat, warga lebih dulu menyampaikan protes terhadap aktivitas pondok yang berlangsung hingga tengah malam.
Exsanuri menjelaskan, penggunaan pengeras suara dalam berbagai kegiatan keagamaan sempat menjadi keluhan utama masyarakat karena dinilai mengganggu waktu istirahat.
"Sangat terganggu. Utamanya sound. Kalau dulu. Bahkan melebihi sound horeg itu. Dan aktivitasnya di luar jam melebihi batas," beber Exsanuri.
Exsanuri menuturkan, pengelola ponpes sebelumnya kerap menggelar kegiatan hingga pukul 00.00 bahkan 01.00 dini hari.
Setelah ia menyarankan agar kegiatan dibatasi hingga pukul 23.00, pengelola mematuhinya.
Sejak kasus perundungan (bullying) mencuat, penggunaan pengeras suara yang sebelumnya sangat mengganggu warga juga sudah tidak lagi terdengar.
Ia menjelaskan kondisi mulai berubah setelah kasus perundungan yang menewaskan seorang santri pada Desember 2025.