"Di Sini Orang-orangnya Baik dan Ramah", Alasan Warga Bertahan di Kampung Tanpa Matahari

"Di Sini Orang-orangnya Baik dan Ramah", Alasan Warga Bertahan di Kampung Tanpa Matahari

JAKARTA, KOMPAS.com - Deretan gang sempit dengan lebar kurang dari satu meter di RW 05, Kelurahan Ancol, Kecamatan Pademangan, Jakarta Utara, nyaris tak pernah disapa sinar matahari setiap hari.

Rumah-rumah yang berdiri rapat tanpa jarak membuat cahaya matahari hanya sesekali menyelinap melalui celah-celah kecil di antara bangunan semipermanen.

Minimnya paparan sinar matahari menjadikan gang-gang di kawasan itu lembap dan redup sepanjang hari. Tak heran, lampu-lampu di sepanjang gang selalu menyala selama 24 jam.

Namun, bagi warga, ketiadaan sinar matahari bukan alasan untuk meninggalkan tempat yang telah puluhan tahun mereka sebut sebagai rumah.

Kampung tanpa matahari di Pademangan Jakarta Utara. Senin, (20/7/2026).
Kampung tanpa matahari di Pademangan Jakarta Utara. Senin, (20/7/2026).

Di balik kondisi permukiman yang serba terbatas, ada ikatan sosial yang membuat mereka bertahan dan sulit meninggalkan tempat itu.

Rasa kekeluargaan

Salah satu warga bernama Hafid (43) mengaku sudah 10 tahun mengontrak rumah di permukiman yang nyaris tak tersentuh matahari itu.

Pindah dari Karawang, Jawa Barat, ke permukiman padat di Jakarta bukan perkara mudah.

Ibu tiga anak itu mengaku harus beradaptasi selama bertahun-tahun hingga akhirnya merasa betah.

Kini, ia mengaku berat meninggalkan rumah kontrakan berukuran 3 x 3 meter yang telah ditempatinya selama satu dekade.

Salah satu penyebab Hafid bertahan di kampung tanpa matahari itu adalah dikelilingi oleh tetangga yang baik.

"Sukanya, lingkungan di sini orang-orangnya ramah, baik, dan rasa kekeluargaannya sangat kuat. Hal itu yang membuat saya betah tinggal selama 10 tahun di sini," jelas dia ketika dijumpai Kompas.com di lokasi, Senin (20/7/2026).

Meski demikian, ia mengaku harus menghadapi persoalan banjir setiap kali hujan deras mengguyur wilayah tersebut.

Saat banjir, genangan air bisa mencapai sekitar 60 sentimeter. Kendati demikian, Hafid mengaku tidak pernah terlalu khawatir lingkungan tempat tinggalnya akan memicu berbagai penyakit.

"Alhamdulillah, selama ini tidak ada kekhawatiran yang berlebih. Yang penting kami tetap menjaga kebersihan supaya tetap sehat," sambung dia.

Pindah KTP

Karena sudah telanjur betah tinggal di wilayah itu, Hafid memutuskan memindahkan domisili kependudukannya dari Karawang ke Jakarta.

Ia berharap suatu hari nanti dapat memiliki rumah sendiri di Jakarta sehingga tidak perlu lagi mengontrak.

Di sisi lain, Hafid juga berharap wilayah tempat tinggalnya terbebas dari banjir.

"Harapannya jangan banjir lagi, itu yang paling utama. Kalau banjir repot sekali, bahkan kulkas saya sampai rusak," ungkap dia.

Letak yang strategis

Perantau asal Brebes, Jawa Tengah, Evi (42), juga memilih untuk tinggal di RW 05, karena letaknya yang strategis.

"Ya, di sini memang tempatnya terjangkau untuk ke mana-mana," ucap dia di lokasi, Senin.

Di sisi lain, harga kontrakan di wilayah itu masih cukup terjangkau. Untuk satu petak rumah berukuran 3 x 3 meter disewakan Rp 500.000 per bulan.