KOMPAS.com - Model kecerdasan buatan (AI) terbaru asal China, Kimi K3 belum lama ini dirilis oleh startup AI Moonshot. Tak lama setelah peluncurannya, model AI open source tersebut kabarnya langsung menarik perhatian Microsoft.
Menurut laporan outlet media The Information, raksasa teknologi asal Amerika Serikat itu tengah menyiapkan integrasi Kimi K3 ke layanan komputasi awan (cloud) Azure mereka.
Microsoft juga disebut-sebut sedang mengevaluasi efektivitas AI Kimi K3 yang rumornya akan diterapkan ke layanan AI Copilot perusahaan.
Jika nantinya benar diadopsi, Kimi K3 berpotensi menjadi salah satu model AI buatan China yang digunakan Microsoft untuk mendukung produk AI-nya.
Langkah tersebut juga dinilai dapat mengurangi ketergantungan Microsoft terhadap model AI buatan OpenAI dan Anthropic yang selama ini menjadi basis teknologi Copilot.
Adapun laporan Axios pada Juni 2025 menyebut bahwa Microsoft sempat mempertimbangkan menggunakan DeepSeek V4 atau model AI lain yang dihosting di infrastrukturnya sendiri untuk mendukung Copilot Cowork.
Layanan tersebut menggabungkan kemampuan Copilot untuk kebutuhan perusahaan dengan model AI canggih dari OpenAI dan Anthropic guna menghadirkan alur kerja berbasis AI agen (Agentic AI).
Alasan Microsoft lirik Kimi K3
Sebagaimana dihimpun KompasTekno dari Wccftech, salah satu alasan yang membuat Kimi K3 menarik adalah efisiensi biaya operasionalnya.
Menurut perhitungan internal Microsoft, perusahaan berpotensi menghemat biaya inferensi (inference) hingga 600 juta dollar AS (sekitar Rp 10,73 triliun) apabila menggunakan Kimi K3.
Selain itu, Moonshot mengeklaim bahwa model AI buatannya ini menawarkan performa yang kompetitif dibanding berbagai model AI lain, sekaligus dirancang agar efisien dijalankan di pusat data.
Efisiensi tersebut dicapai berkat ukuran KV cache yang lebih kecil dan optimasi penggunaan memori per token. Model ini mendistribusikan 896 expert ke banyak GPU sehingga mampu menekan kebutuhan komputasi tanpa mengorbankan performa.
Meski demikian, biaya inferensi Kimi K3 sebenarnya tidak bisa dibilang murah untuk ukuran model open source.
Sebab, rata-rata biaya yang dibutuhkan model tersebut mencapai 0,94 dollar AS (sekitar Rp 16.816) per tugas Intelligence Index.
Angka tersebut lebih tinggi dibanding GPT-5.6 Terra yang membutuhkan sekitar 0,55 dollar AS (sekitar Rp 9.838) per tugas, tetapi masih sedikit lebih rendah dibanding GPT-5.6 Sol yang mencapai 1,04 dollar AS (sekitar Rp 18.604) dengan mode penalaran maksimum aktif.
Kimi K3 juga diketahui memiliki kecenderungan melakukan proses reasoning lebih banyak, sehingga sering mengonsumsi token tambahan.
Namun, apabila Microsoft benar-benar mengadopsi Kimi K3, langkah tersebut diperkirakan tidak akan berjalan mulus.
Sebab, pemerintahan Presiden Donald Trump tengah berupaya mengurangi penggunaan model AI open source asal China.
Di sisi lain, strategi AI pemerintah AS juga disebut tengah berada di ketidakpastian setelah pejabat keamanan AI kedua negara tersebut mengundurkan diri sekitar tiga bulan lalu.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang