Warga Bertahan di Kampung Tanpa Matahari demi Kontrakan Rp 500.000

Warga Bertahan di Kampung Tanpa Matahari demi Kontrakan Rp 500.000

JAKARTA, KOMPAS.com – Gang sempit yang gelap, rumah tanpa cahaya matahari, hingga banjir yang datang hampir setiap akhir tahun tak membuat sebagian warga meninggalkan RW 05, Kelurahan Ancol, Kecamatan Pademangan, Jakarta Utara.

Di balik kondisi yang serba terbatas itu, biaya sewa rumah yang relatif murah menjadi alasan utama mereka tetap bertahan.

Bagi Hafid (43), perempuan asal Karawang, Jawa Barat, kampung minim matahari itu telah menjadi rumahnya selama 10 tahun terakhir.

Meski setiap hari harus hidup di lingkungan yang nyaris tak pernah tersentuh sinar matahari, ia mengaku belum memiliki pilihan lain.

"Jika tak keluar gang atau pergi ke arah sumur di belakang rumah, kita enggak bisa lihat siang," kata Hafid saat ditemui Kompas.com di lokasi, Senin (20/7/2026).

Hafid bercerita, ia dan suaminya merantau ke Jakarta karena sulit mendapatkan pekerjaan di kampung halaman.

Berbekal informasi dari adik iparnya, mereka memilih mengontrak rumah di RW 05 karena tarif sewanya masih terjangkau.

Rumah berukuran sekitar 3 x 4 meter itu disewanya seharga Rp 500.000 per bulan.

Di ruang sederhana tersebut, Hafid tinggal bersama suami dan tiga anaknya.

Seluruh aktivitas keluarga dilakukan di ruangan yang sama, mulai dari tidur, makan, menonton televisi, hingga berkumpul bersama.

Sementara kompor diletakkan di dekat pintu masuk agar masih memiliki ruang untuk beraktivitas.

Untuk mandi dan mencuci pakaian, Hafid bersama warga lainnya memanfaatkan sumur umum yang berada di sisi rel kereta api.

Meski jauh dari kata ideal, Hafid bersyukur suaminya akhirnya mendapatkan pekerjaan sebagai sopir pribadi setelah pindah ke Jakarta.

Penghasilan itulah yang membuat keluarganya mampu bertahan hingga sekarang.

Murah, tetapi minim cahaya

Cerita serupa dialami Evi (42), warga yang baru enam bulan menghuni kampung tersebut.