KOMPAS.com - Ketidaksesuaian tingkat pendidikan dengan jenis pekerjaan yang dijalani menjadi ganjalan besar di pasar kerja.
Melansir Kompas.com, Selasa (23/6/2026), data Badan Pusat Statistik (BPS) membeberkan bahwa 35,36 persen pekerja muda berada pada posisi yang menyimpang dari tingkat pendidikan mereka.
Sebanyak 22,36 persen di antaranya mengalami overeducated, yakni melamar posisi yang sebenarnya bisa dikerjakan tanpa memerlukan gelar sarjana. Sementara itu, 13 persen lulusan lainnya berstatus undereducated, atau memiliki tingkat pendidikan di bawah standar kualifikasi posisinya.
Situasi ini mencerminkan tingginya kesenjangan antara pasokan keterampilan dari sistem akademik dengan kebutuhan riil perusahaan. Banyak generasi muda yang cemas menghadapi ketidaksesuaian keterampilan ini di lapangan.
Kondisi tersebut diperparah oleh fenomena jebakan transisi yang mengadang para lulusan baru, mulai dari minimnya pengalaman, kurang matangnya kompetensi teknis, hingga keterbatasan akses terhadap informasi lowongan kerja yang transparan.
Lantas, keterampilan dasar atau pola pikir seperti apa yang harus dibangun sejak dini agar tidak menjadi angkatan kerja yang kaku?
"Saya biasanya membagi menjadi tiga lapis," ungkap Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (FEB UI), Prof. Rhenald Kasali, Ph.D, kepada Kompas.com beberapa waktu lalu.
"Lapis pertama adalah learnability atau kemampuan belajar hal baru. Bukan apa yang diketahui sekarang, tetapi seberapa cepat seseorang bisa mempelajari sesuatu yang belum diketahuinya. Artinya kecepatan adopsi," lanjut dia.
Kunci bertahan di tengah dinamika pasar kerja yang berubah
Lulusan berstatus overeducated umumnya lebih cepat mendapatkan penghasilan. Namun, hal itu terjadi lantaran mereka terserap di sektor informal yang jumlahnya mencapai 59,42 persen dari total tenaga kerja nasional pada Februari 2026.
Bekerja di sektor ini sarat dengan upah rendah dan ketiadaan perlindungan. Menghindari jebakan tersebut membutuhkan kelenturan pola pikir karena arah pekerjaan ke depan sangat dinamis.
"Lapis kedua adalah adaptability atau kemampuan beradaptasi. Sebabnya, karier masa depan tidak lagi linear. Bahkan orang bisa berpindah profesi beberapa kali sepanjang hidupnya," tutur Rhenald.
Berbekal dua fondasi tersebut, tenaga kerja juga harus menguasai lapis ketiga, yakni employability atau kapasitas mempertahankan relevansi diri.
Rhenald mengungkapkan bahwa World Economic Forum bahkan menempatkan pemikiran analitis, resiliensi, pemikiran kreatif, hingga keluwesan, dalam daftar keterampilan paling dicari.
"Bagi saya, di masa depan yang kalah bukan yang kurang pintar. Yang kalah adalah yang berhenti belajar," terang Rhenald.
Mengubah cara pandang soal wisuda
Banyak kalangan yang meyakini bahwa setelah menuntaskan pendidikan kampus, proses mencari ilmu telah selesai.