"Walau Beraroma, Tetap Saja Saya Hirup Udara Tak Bersih" Keluh Orang Sekitar Pengguna Vape

"Walau Beraroma, Tetap Saja Saya Hirup Udara Tak Bersih" Keluh Orang Sekitar Pengguna Vape

JAKARTA, KOMPAS.com - Di sebuah kafe di wilayah Jakarta Selatan, Aulia (21) beberapa kali harus menahan rasa tak nyaman ketika orang di meja sebelahnya terus-menerus mengembuskan uap vape ke udara.

Aroma manis yang menyerupai buah-buahan atau mint bagi sebagian orang mungkin terasa lebih “ramah” dibanding asap rokok. Namun bagi Aulia, sensasinya tetap mengganggu.

“Saya pernah duduk di sebelah orang yang terus-terusan nge-vape, dan setelah beberapa lama kepala saya agak pusing dan engap,” kata Aulia saat ditemui Kompas.com, Selasa (30/6/2026).

Aulia bukan pengguna rokok maupun vape. Ia menilai popularitas vape di kalangan anak muda kini sudah jauh bergeser dari narasi awalnya, yakni sebagai alternatif untuk berhenti merokok. Menurut dia, vape kini lebih identik sebagai bagian dari gaya hidup.

Ia melihat desain perangkat yang modern, pilihan warna yang menarik, hingga ragam rasa liquid yang dibuat semenarik mungkin menjadi alasan vape cepat diterima generasi muda.

Ilustrasi vape.
Ilustrasi vape.

Packaging-nya modern, aromanya juga tidak sekeras rokok, jadi kesannya seperti sesuatu yang lebih santai dan tidak terlalu berbahaya. Padahal menurut saya itu justru membuat orang lengah,” ujar dia.

Pandangan serupa disampaikan Gunawan (25), karyawan swasta di Jakarta. Ia menilai vape kini bukan lagi sekadar produk nikotin, melainkan bagian dari citra sosial.

“Banyak orang pakai karena terlihat keren, modern, dan seolah menjadi simbol gaya hidup tertentu,” kata Gunawan saat ditemui terpisah di wilayah Jakarta Selatan.

Menurut Gunawan, budaya vape semakin terasa di kota besar, terutama dalam kultur nongkrong.

Orang minum kopi sambil mengisap vape, bekerja sambil vape, hingga mengobrol sambil vape kini menjadi pemandangan yang lumrah.

Normalisasi inilah yang membuat paparan terhadap non-pengguna semakin sering terjadi.

“Walaupun aromanya fruity atau mint, tetap saja saya merasa sedang menghirup sesuatu yang bukan udara bersih,” ujar Gunawan.

Ia juga menyoroti satu hal yang menurutnya jarang dibahas, pengguna vape cenderung menghisap lebih sering dibanding perokok konvensional karena perangkatnya praktis dan mudah dibawa.

“Jadi paparan ke orang sekitar juga terasa lebih sering,” katanya.

Keluhan serupa datang dari Dinda (24), seorang content strategist yang memiliki sinus sensitif.

Bagi Dinda, klaim bahwa vape “hanya uap” tidak otomatis membuatnya aman bagi orang sekitar.

“Kalau ada orang vape dekat saya, apalagi aroma yang kuat seperti mint dingin, hidung saya langsung enggak nyaman,” ujar Dinda saat dihubungi melalui panggilan WhatsApp.

Ia menilai vape dipasarkan dengan cara yang sangat cerdas. Produk ini dikemas modern, sleek, dan terasa seperti aksesori, bukan barang adiktif.

“Kadang saya merasa vape dijual seperti aksesori, bukan barang yang punya risiko kesehatan. Orang membahas device baru seperti membahas gadget,” kata dia.

Kekhawatiran terbesar Dinda adalah perubahan persepsi generasi muda terhadap vape.

Jika dahulu rokok jelas dianggap berbahaya, kini vape memiliki citra yang lebih “bersih” dan “keren”.

“Citra itu yang membuat semakin banyak remaja mencoba sebelum benar-benar memahami konsekuensinya,” ujar dia.

Nikmati Fitur Lengkap KARIN dengan KOMPAS.com PLUS

Dapatkan lebih banyak kuota, pahami berita lebih cepat, dan gali konteks mendalam dari artikel KOMPAS.com.

Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat

Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app