Trump Bantah AS Kehabisan Amunisi untuk Gempur Iran

Trump Bantah AS Kehabisan Amunisi untuk Gempur Iran

Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, sedang menyampaikan pidato tentang perekonomian di Rockland Community College di Suffern, New York, pada 22 Mei 2026. (flickr.com/The White House via commons.wikimedia.org/The White House)
  • Donald Trump membantah AS kehabisan amunisi untuk menyerang Iran, dengan klaim stok persenjataan negaranya jauh melebihi kebutuhan.
  • Trump sempat menghentikan rencana eskalasi serangan karena laporan kekurangan rudal pertahanan, sementara Gedung Putih menyatakan Washington kini mengutamakan negosiasi dengan Iran.
  • Konflik AS-Iran mereda setelah AS menahan serangan lanjutan dan Iran menghentikan serangan balasan, meski pejabat Iran menilai jeda ini belum tentu tulus.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times - Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, membantah kabar bahwa negaranya sudah kehabisan amunisi untuk melanjutkan serangan terhadap Iran. Ia mengatakan, jumlah amunisi pasukan AS kini sudah lebih dari cukup untuk menyerang Iran.

“Kita memiliki amunisi jauh lebih banyak daripada siapa pun di dunia dan jauh lebih banyak daripada yang kita butuhkan,” kata Trump dalam pernyataannya kepada Wall Street Journal (WSJ) pada Minggu (26/7/2026), seperti dikutip Times of Israel, Senin (27/7/2026). 

1. Trump masih punya niat untuk menyerang Iran

Serangan Amerika Serikat ke kapal tanker minyak Iran.
ilustrasi serangan Amerika Serikat ke kapal tanker minyak Iran (truthsocial.com/@realDonaldTrump)

Trump juga menyiratkan bahwa dirinya masih punya niat untuk melanjutkan serangan ke Iran. Niat tersebut terlihat dalam dua buah foto buatan kecerdasan buatan (AI) yang diunggah Trump di laman Truth Social pribadinya. 

Foto pertama menggambarkan pasukan AS sedang menyerang kapal tanker minyak berbendera Iran. Sementara itu, foto kedua menunjukkan militer AS sedang melakukan serangan udara di Pulau Kharg, pusat ekspor dan impor minyak milik Iran.

“Ini sudah menjadi kapal tanker minyak kita sekarang. Tidak ada mesin. Serangan terhadap (Pulau) Kharg!” demikian bunyi pesan Trump dalam foto-foto yang ia unggah di Truth Social.  

2. Trump tidak jadi meningkatkan serangan ke Iran

Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, sedang berkunjung di Florida pada 8 September 2020.
Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, sedang berkunjung di Florida pada 8 September 2020. (flickr.com/The White House via commons.wikimedia.org/The White House)

Sebelumnya, Trump dikabarkan telah mengurungkan niatnya untuk meningkatkan serangan terhadap Iran. Menurut seorang pejabat AS anonim, keputusan ini diambil karena Washington sudah kehabisan stok rudal untuk menangkal serangan balasan dari Iran. Akibat hal ini, Trump akhirnya memutuskan untuk menghentikan serangan terhadap Teheran pada Jumat (24/7/2026).

Menurut Direktur Bidang Komunikasi Gedung Putih, Steven Cheung, Trump kini lebih memilih melanjutkan negosiasi dengan Iran. Sebab, menurutnya, cara tersebut akan lebih efektif untuk menyudahi ketegangan dengan Iran dibanding terus melakukan agresi militer. Terlebih, negosiasi lanjutan antara Washington dan Teheran juga sudah lama tertunda karena kedua negara kembali berperang pada 11 Juli lalu. 

“(Donald) Trump konsisten dalam mengatakan bahwa ia lebih menyukai solusi diplomatik. Namun, ia tetap mempertimbangkan semua opsi jika Iran terus melakukan aktivitas teroris di Selat Hormuz atau terhadap sekutu. Namun, akan lebih bijaksana bagi Iran untuk berupaya mencapai kesepakatan melalui negosiasi. Jika tidak, mereka tahu apa yang akan terjadi,” jelas Cheung dilansir Jerusalem Post.  

3. Perang AS dan Iran sudah mereda

Perang antara Iran dengan Amerika Serikat dan Israel.
ilustrasi perang antara Iran melawan Amerika Serikat dan Israel (unsplash.com/Saifee Art)

Saat ini, perang antara AS dan Iran sudah mereda. Sebab, AS sudah sepakat menahan serangan lanjutan ke Iran. Di sisi lain, Iran juga sudah sepakat menghentikan serangan balasan terhadap AS. Kesepakatan tersebut diumumkan oleh seorang pejabat senior Iran anonim pada Minggu (26/7/2026).

“Posisi Iran tetap serangan dibalas serangan. Jika serangan (AS) berhenti, Iran juga akan menghentikan operasinya. Pesan itu telah disampaikan kepada AS. Namun, ada lebih banyak skeptisisme daripada optimisme tentang penghentian serangan. Pandangan yang berlaku adalah bahwa jeda tersebut bersifat taktis dan bukan tulus,” ujar pejabat tersebut dilansir Times of Israel.

Menurunnya tensi antara AS dan Iran menimbulkan secercah harapan akan keberlanjutan upaya perdamaian kedua negara. Washington dan Teheran diharapkan mau kembali ke meja perundingan agar perdamaian abadi bisa segera tercapai. Sebab, perang yang berkepanjangan juga akan berdampak buruk bagi kedua negara.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.