JAKARTA, KOMPAS.com – Mobil bertransmisi otomatis punya berbagai tipe, mulai beragam torque converter (AT), Continuously Variable Transmission (CVT), hingga Dual Clutch Transmission (DCT).
Masing-masing memiliki karakter, kelebihan, dan kebutuhan perawatan yang berbeda. Satu yang pasti, apapun jenisnnya memiliki satu kesamaan yakni tidak dirancang untuk bertahan selamanya.
Hermas Efendi Prabowo, pemilik bengkel spesialis mobil matik Worner Matic, mengatakan, seiring pemakaian, komponen di dalam transmisi akan mengalami keausan sehingga pada waktunya membutuhkan perbaikan atau penggantian.
“Yang perlu dipahami soal transmisi matik itu, dia punya lifetime. Engga abadi," kata Hermas kepada Kompas.com, yang ditemui di Bintaro, Tangerang Selatan, belum lama ini.
Menurut Hermas, sebaik apa pun cara pemilik merawat kendaraan, komponen transmisi tetap akan mengalami keausan akibat usia dan pemakaian.
"Jadi mau kamu pakai sehalus apa pun, serapih apa pun, kalau sudah waktunya rusak, ya rusak. Sama seperti sepatu, sandal, atau baterai mobil semua ada umurnya,” ujar Hermas.
Ia menjelaskan, perawatan yang rutin memang dapat membantu memperlambat keausan komponen. Namun, perawatan tidak dapat menghilangkan fakta bahwa transmisi memiliki masa pakai.
“Kalau memang sudah waktunya rusak, ya rusak betulan. Selesai," kata Hermas.
Perawatan
Namun tentu dengan perawatan berkala akan menjaga performa transmisi tetap optimal sekaligus memperpanjang masa pakainya.
Namun, pemilik kendaraan juga perlu memahami bahwa perawatan bukan berarti membuat transmisi terbebas dari risiko kerusakan.
Hermas menyarankan pemilik mobil mulai menyiapkan dana perawatan jauh sebelum transmisi mengalami kerusakan.
Langkah ini dinilai dapat mengurangi beban finansial ketika kendaraan membutuhkan perbaikan.
"Makanya saya sering bilang ke pelanggan, kalau nggak mau kaget keluar duit besar, tiap 1 kilometer jalan, sisihkan Rp 100. Nanti kalau sudah jalan 50.000 kilometer, ya kira-kira sudah terkumpul Rp 5 juta. Jadi saat barang rusak, dananya sudah siap,” katanya.
Menurut Hermas, cara tersebut lebih realistis dibanding menunggu kerusakan terjadi tanpa memiliki dana cadangan.
Sebab, biaya perbaikan transmisi otomatis umumnya tidak murah, terutama jika harus mengganti komponen utama.
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app