Wilujengan Nagari Keraton Solo Bakal Diikuti Ratusan Peserta Sore Ini, Ada Sentana Dalem hingga Keluarga Besar Karaton

Wilujengan Nagari Keraton Solo Bakal Diikuti Ratusan Peserta Sore Ini, Ada Sentana Dalem hingga Keluarga Besar Karaton

SOLO, KOMPAS.com - Ratusan peserta berbagai unsur akan menghadiri tradisi doa bersama atau Wilujengan Nagari di Keraton Kasunanan Surakarta atau Keraton Solo pada Jumat (3/7/2026) sore.

Tradisi doa bersama rencana dimulai pukul 15.00 WIB akan berlangsung di Sasana Handrawina Kompleks Karaton Solo.

Pengageng Sasana Wilapa sekaligus Ketua Lembaga Dewan Adat (LDA) Karaton Solo, GKR Koes Moertiyah Wandansari, mengatakan berdasarkan data Jumat pagi jumlah peserta yang mendaftar ada 700 orang.

Mereka berasal dari Sentana Dalem, Sentana Daerah Dalem, anggota Paguyuban Kawula Karaton Surakarta (PAKASA), sentana dan abdi dalem aktif di lingkungan Karaton.

Selain itu, Putri Narpawandawa, Abdi Dalem Keparak, Abdi Dalem Garadan, Putra Wayah PB XII beserta istri, hingga sahabat keluarga besar Karaton Solo.

Punya makna batin yang kuat

Dia menjelaskan bahwa tradisi doa bersama ini menjadi bagian dari peringatan hari jadi ke-290 Karaton Solo menurut penanggalan Jawa atau ke-281 menurut hitungan Masehi.

"Pada 17 Sura Tahun Jawa 1960 ini, Karaton Solo genap berusia 290 tahun menurut hitungan Jawa atau 281 tahun menurut hitungan Masehi," kata Gusti Moeng sapaan akrab GKR Koes Moertiyah Wandansari dalam keterangan tertulis, Jumat pagi.

Menurut Gusti Moeng, 17 Sura bukan sekadar penanda pergantian tahun dalam kalender Jawa.

Momentum ini memiliki makna batin yang kuat untuk meneguhkan rasa syukur, memanjatkan doa keselamatan, sekaligus merawat kesinambungan adat, nilai, dan warisan budaya yang telah hidup selama hampir tiga abad.

Dia juga menambahkan, peringatan hari jadi karaton setiap 17 Sura merupakan momentum penting untuk merefleksikan perjalanan panjang karaton sebagai pusat budaya, tata nilai, dan laku tradisi Jawa.

"Kami berharap karaton tetap lestari, adat istiadatnya terjaga, dan warisan budayanya terus hidup," ungkap dia.

Lebih lanjut, Gusti Moeng, mengungkapkan Wilujengan Nagari tidak hanya dimaknai sebagai ritual seremonial tahunan, melainkan juga peneguhan batin agar karaton tetap lestari sebagai rumah budaya Jawa.

Oleh karena itu, besarnya antusiasme peserta yang mendaftar menunjukkan Karaton Solo masih menjadi simpul kebudayaan yang mempertemukan ikatan kekerabatan, laku spiritual, dan kesadaran bersama untuk menjaga warisan leluhur.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang