TPST Bantargebang Ditargetkan Hanya Terima Sampah Residu pada 2029

TPST Bantargebang Ditargetkan Hanya Terima Sampah Residu pada 2029

Bekasi, Beritasatu.com - Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta menargetkan Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Bantargebang, Kota Bekasi, hanya menerima sampah residu pada 2029. Target tersebut menjadi bagian dari transformasi besar pengelolaan sampah yang dilakukan secara menyeluruh, mulai dari hulu hingga hilir.

Kepala Unit Pengelola Sampah Terpadu (UPST) Dinas Lingkungan Hidup (DLH) DKI Jakarta Agung Pujo Winarko mengatakan perubahan sistem pengelolaan sampah tidak hanya dilakukan di TPST Bantargebang, tetapi juga dimulai dari pengurangan sampah di sumbernya.

"Kita sudah mulai melakukan transformasi terhadap pola pengelolaan sampah. Transformasi ini tidak hanya di TPST Bantargebang, tetapi menyeluruh, mulai dari hulu, tengah, hingga hilir," kata Agung, Rabu (5/8/2026).

Open Dumping Disetop

Agung menjelaskan, penguatan di hulu dilakukan melalui pengurangan sampah dari sumber, sedangkan di tingkat tengah pemerintah meningkatkan kapasitas berbagai fasilitas pengolahan sampah di Jakarta. Sementara itu, pembenahan di hilir difokuskan di TPST Bantargebang.

Salah satu langkah utama adalah menghentikan secara bertahap praktik open dumping dan menggantinya dengan sistem controlled landfill. "Yang utama adalah kita akan mencoba memulai secara bertahap penghentian praktik open dumping menuju controlled landfill. Inilah yang dilakukan di TPST Bantargebang," ujarnya.

Program transformasi tersebut telah dimulai sejak 1 Agustus 2026 dan akan berlangsung secara bertahap hingga 2029. Pemerintah menargetkan seluruh sampah di Jakarta sudah diolah sebelum dikirim ke tempat pemrosesan akhir. 

"Harapannya nanti di 2029 semua sampah di Jakarta bisa terkelola dengan baik. Dan hanya residu saja yang masuk ke TPST Bantargebang," ucap Agung.

Pengangkutan Sampah Tetap

Meski tengah melakukan transformasi, DLH DKI Jakarta memastikan pelayanan pengangkutan sampah dari Jakarta menuju TPST Bantargebang tidak akan terganggu.

"Kami tidak boleh melakukan penghambatan terhadap pelayanan. Pelayanan pengangkutan sampah dari Jakarta menuju TPST Bantargebang akan tetap berjalan dengan baik dan kami tidak akan mengurangi pelayanan pengangkutan sampah kepada masyarakat," tegas Agung.

Sampah Menumpuk di Kapuk Jakbar Imbas TPST Bantargebang Overload

Geomembran Dipasang

Sebagai bagian dari penataan TPST Bantargebang, pemerintah juga mulai menutup sejumlah area landfill menggunakan geomembran dan material pelindung lainnya. Langkah ini bertujuan mengurangi bau, membatasi masuknya air hujan ke timbunan sampah, serta menekan produksi air lindi.

"Kami sudah melakukan penutupan terhadap material landfill menggunakan geomembran. Harapannya dapat mengendalikan kebauan, membatasi air hujan yang masuk ke timbunan sampah sehingga mengurangi air lindi yang harus dikelola," jelas Agung.

Selain itu, pemerintah melakukan perataan dan pemadatan timbunan sampah untuk membentuk lereng yang lebih aman sebagai bagian dari upaya mitigasi bencana.

Sampah Menumpuk di Kapuk Jakbar Imbas TPST Bantargebang Overload

Pengurangan Sampah

DLH DKI Jakarta juga terus meningkatkan pengelolaan air lindi dan gas metana di TPST Bantargebang. Pada sisi lain, pengurangan volume sampah dilakukan melalui pemilahan di sumber, penguatan TPS3R, pengolahan sampah organik dan anorganik, pengembangan bank sampah, hingga optimalisasi fasilitas refuse derived fuel (RDF).

Menurut Agung, seluruh program tersebut harus berjalan secara bersamaan agar target 2029 dapat tercapai. "Semua harus berjalan beriringan dari hulu, tengah, hingga hilir. Kalau seluruh fasilitas sudah optimal dan pengurangan sampah di sumber berhasil, maka pada 2029 hanya sampah residu yang masuk ke TPST Bantargebang," pungkasnya.

DKI Jakarta

Pengelolaan Sampah

Open Dumping