BAYANGKAN dua orang yang bertemu dalam sebuah konferensi nasional di Pulau Bali.
"Anda dari mana?" tanya seorang peserta. "Saya dari Bandung," jawab peserta lainnya.
"Oh, orang Jawa juga, saya pikir blasteran. Saya dari Solo," balas peserta dari Solo spontan.
Maksudnya, orang Solo tadi merasa senang karena bertemu dengan sesama orang dari Pulau Jawa.
Maklum, mereka sedang berada di Pulau Bali.
Peserta dari Bandung itu tersenyum, lalu menjawab, "Saya tinggal di Pulau Jawa, tetapi saya orang Sunda."
Percakapan itu mungkin terdengar sepele bagi sebagian orang Indonesia, tetapi tidak bagi banyak orang Sunda.
Sebab dalam kalimat sederhana tersebut tersembunyi sebuah persoalan identitas yang unik di Indonesia, yakni tumpang tindih antara nama pulau dan nama etnis dominan yang hidup di pulau tersebut.
Orang Sunda berada dalam posisi yang berbeda, lho!
Mereka hidup di Pulau Jawa, tetapi kata "Jawa" dalam percakapan sehari-hari di Indonesia lebih sering dipahami sebagai identitas etnis daripada identitas geografis.
Akibatnya, ketika seseorang berkata "orang Jawa", yang terbayang biasanya adalah masyarakat Jawa dari Jawa Tengah, Yogyakarta, atau Jawa Timur, bukan seluruh penduduk Pulau Jawa.
Di sinilah muncul kebutuhan untuk memberi penegasan bahwa "Saya orang Sunda dari Jawa Barat." atau bahkan "Saya orang Sunda, bukan orang Jawa."
Sepertinya, kalimat tersebut bukanlah penolakan terhadap geografi, melainkan penegasan identitas etnis yang berbeda.
Nah, inilah letak keunikan kasus Sunda dalam lanskap identitas Indonesia.
Di banyak wilayah di Indonesia, nama pulau hanya berfungsi sebagai penanda geografis.
Nikmati Fitur Lengkap KARIN dengan KOMPAS.com PLUS
Dapatkan lebih banyak kuota, pahami berita lebih cepat, dan gali konteks mendalam dari artikel KOMPAS.com.