Studi: Kebanyakan Nonton TV Terkait Struktur Otak yang Lebih Kecil

Studi: Kebanyakan Nonton TV Terkait Struktur Otak yang Lebih Kecil

Table of Content

Temuan studi selama 24 tahun

Tim peneliti menganalisis data 1.712 peserta dari Atherosclerosis Risk in Communities Study (ARIC), sebuah penelitian jangka panjang mengenai kesehatan jantung dan otak di Amerika Serikat. Para peserta tidak mengalami demensia, 57 persen di antaranya perempuan, dan usia rata-ratanya 53 tahun ketika kebiasaan sedenter dinilai pada tahun 1987–1989.

Partisipan studi ditanya seberapa sering mereka menonton TV pada waktu senggang, mulai dari “tidak pernah atau jarang” hingga “sangat sering”. Mereka juga melaporkan lama waktu kerja yang dihabiskan dalam posisi duduk.

Sekitar 24 tahun kemudian, saat usia peserta rata-rata mencapai 76 tahun, mereka menjalani pemindaian otak dengan MRI. Dibandingkan dengan orang yang tidak pernah atau jarang menonton TV, kelompok yang menjawab “sangat sering” menunjukkan sejumlah perbedaan, termasuk:

  • Volume lobus frontal yang lebih kecil.
  • Volume lobus oksipital yang lebih kecil.
  • Volume lebih kecil pada kumpulan area yang disebut area ciri khas penyakit Alzheimer (Alzheimer’s disease-signature regions).
  • Volume hiperintensitas materi putih yang lebih besar.

Lobus frontal terlibat dalam perencanaan, pengambilan keputusan, perhatian, dan pengendalian perilaku. Lobus oksipital terutama berperan dalam memproses informasi visual. Sementara itu, area ciri khas penyakit Alzheimer mencakup area yang rentan mengalami perubahan pada tahap awal penyakit Alzheimer, termasuk bagian yang berperan dalam pembentukan dan pengambilan memori.

Adapun hiperintensitas materi putih atau white matter hyperintensities (WMH) merupakan area yang tampak lebih terang pada MRI. Temuan ini merupakan penanda perubahan jaringan yang sering dikaitkan dengan penyakit pembuluh darah kecil otak, penuaan, stroke, penurunan kognitif, dan demensia.

Hubungan tersebut tetap terlihat setelah peneliti memperhitungkan aktivitas fisik, indeks massa tubuh, diabetes, hipertensi, kebiasaan merokok, konsumsi alkohol, pendidikan, dan sejumlah faktor lainnya. Efeknya tampak lebih luas pada peserta laki-laki, tetapi penyebab perbedaannya belum diketahui secara pasti.

Temuan baru ini sejalan dengan penelitian lainnya terhadap 599 orang. Kebiasaan menonton TV yang dinilai berulang kali selama 20 tahun berkaitan dengan volume materi abu-abu yang lebih rendah pada korteks frontal, korteks entorhinal, dan otak secara keseluruhan. Hubungan itu juga bertahan setelah aktivitas fisik diperhitungkan.