Table of Content
1. Perbedaan tugas retina dan kornea
2. Gejala kornea dan retina dapat terasa berbeda
Karena ada di permukaan, kornea berhadapan langsung dengan debu, lensa kontak, kuku, ranting, bahan kimia, dan mikroorganisme. Gangguannya dapat menyebabkan pandangan buram, mata merah atau berair, nyeri, sensasi seperti ada benda asing, serta sensitivitas terhadap cahaya.
Rasa sakitnya bisa sangat kuat meskipun lukanya kecil.
Kornea merupakan salah satu jaringan tubuh dengan persarafan sensorik yang sangat padat. Saraf tersebut mendeteksi rangsangan mekanis, kimia, dan suhu sekaligus memicu refleks berkedip serta produksi air mata untuk melindungi permukaan mata.
Namun, penyakit kornea tidak selalu menimbulkan nyeri. Keratokonus, misalnya, bisa lebih dahulu menyebabkan pandangan buram, silau, atau astigmatisme yang terus berubah. Gangguan sel endotel kornea juga dapat membuat penglihatan seperti berkabut, terutama pada pagi hari.
Gangguan retina biasanya lebih terasa sebagai perubahan pada apa yang dilihat. Gejalanya bisa berupa penglihatan pusat yang buram, garis lurus tampak bergelombang, kesulitan melihat pada malam hari, berkurangnya penglihatan samping, bintik-bintik mengambang, atau hilangnya sebagian lapang pandang.
Sebagian penyakit retina bahkan tidak menimbulkan gejala pada tahap awal. Contohnya, retinopati diabetik dapat merusak pembuluh darah retina tanpa langsung mengubah penglihatan.
Ada pula gejala retina yang harus ditangani sebagai keadaan darurat. Peningkatan mendadak jumlah floaters, kilatan cahaya, atau bayangan gelap seperti tirai dapat menandakan retina robek atau terlepas. Ablasio retina dapat menyebabkan kehilangan penglihatan permanen jika terlambat ditangani.
Meski demikian, gejala saja tidak cukup untuk menentukan bagian mana yang terganggu. Mata buram, misalnya, dapat berasal dari kornea, retina, lensa, saraf optik, atau kelainan refraksi. Rasa sakit juga tidak selalu berarti masalahnya cuma ada di kornea.