Saat Kepala Kambing Dilarung di Pantai Happy Kebumen, Belasan Ribu Warga Berdesakan di Tepi Laut

Saat Kepala Kambing Dilarung di Pantai Happy Kebumen, Belasan Ribu Warga Berdesakan di Tepi Laut

KEBUMEN, KOMPAS.com – Matahari masih terasa menyengat ketika ribuan pasang kaki memenuhi pasir Pantai Happy, Desa Ayam Putih, Kecamatan Buluspesantren, Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah, Sabtu (11/7/2026).

Suara debur ombak Samudera Hindia sesekali tenggelam oleh riuh warga.

Anak-anak berdiri berjinjit, orang dewasa merapat ke bibir pantai, sementara tangan-tangan terangkat memegang telepon genggam. Semua mata mengarah ke laut.

Siang itu bukan akhir pekan biasa di Pantai Happy.

Warga datang untuk menunggu satu prosesi yang hanya berlangsung setahun sekali yakni larungan kepala kambing dalam tradisi sedekah laut masyarakat Desa Ayam Putih.

Saat sesaji dibawa mendekati garis pantai, kerumunan ikut bergerak.

Mereka berdesakan, berusaha mencari posisi terbaik. Sebagian hanya ingin menyaksikan, sebagian lainnya bersiap berebut sesaji yang menjadi bagian dari rangkaian tradisi.

Satu kepala kambing menjadi sesaji utama dan dua gunungan sayuran serta hasil bumi menjadi sasaran utama perebutan oleh warga.

Di sekitarnya terdapat ayam ingkung dan berbagai perlengkapan tradisi yang telah disiapkan warga.

Perlahan, sesaji itu dibawa menuju laut dan dilarung di antara gulungan ombak Pantai Happy.

"Ya, tadi yang kita larung kepala kambing bersama beberapa sesaji. Ada ayam ingkung dan lainnya," kata Kepala Desa Ayam Putih, Saudi, saat ditemui di Pantai Happy.

Bagi warga Desa Ayam Putih, larungan tersebut bukan sekadar tontonan.

Ucap syukur atas rezeki dan hasil laut

Tradisi itu menjadi cara masyarakat mengucapkan syukur atas rezeki dan hasil laut yang mereka terima selama setahun terakhir.

"Kalau tradisi yang sudah berjalan di Desa Ayam Putih, larungan ini sebenarnya sebagai ungkapan rasa syukur. Untuk ikon Pantai Happy, kami mengadakan larungan kepala kambing," ujar Saudi.

Tradisi itu digelar setiap bulan Suro dalam penanggalan Jawa. Warga menyebut rangkaian kegiatan tersebut sebagai memetri bumi dan sedekah laut.