- Pertandingan Chile vs Italia di Piala Dunia 1962 berubah jadi kekacauan setelah komentar jurnalis Italia menghina kondisi Chile, memicu kemarahan publik dan suasana panas sejak sebelum laga dimulai.
- Laga berlangsung brutal dengan banyak pelanggaran; dua pemain Italia diusir, polisi sampai turun tangan tiga kali untuk melerai perkelahian antar pemain di lapangan.
- Chile menang 2-0, tapi laga dijuluki 'Battle of Santiago' karena kekerasannya; insiden ini kemudian menginspirasi lahirnya sistem kartu kuning dan merah pada Piala Dunia 1970.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Piala Dunia sering kali melahirkan pertandingan bertensi tinggi. Namun, apa yang terjadi di Estadio Nacional, Santiago, pada 2 Juni 1962, sama sekali tidak ada hubungannya dengan itu. Pertandingan babak penyisihan grup 1962 antara tuan rumah Chile dan Italia justru menjelma sebagai ajang para pemain bertukar pukulan dan tendangan.
1. Dipicu komentar pedas jurnalis Italia yang merendahkan kondisi Chile sebagai tuan rumah Piala Dunia 1962
Ketegangan sebenarnya sudah membara sebelum peluit sepak mula dibunyikan. Dilansir The Guardian, dua jurnalis Italia, Antonio Ghirelli dan Corrado Pizzinelli, menulis artikel untuk surat kabar La Nazione serta Corriere della Sera yang menjelek-jelekkan Chile sebagai negara tuan rumah. Mereka menggambarkan Santiago sebagai kota yang terbelakang, miskin, dan hancur setelah dihantam gempa bumi dahsyat M 9,6 pada 1960 yang menewaskan antara 1.655 hingga 5.700 orang
Penduduk dan media Chile langsung meradang. Mereka merasa dihina padahal sudah bekerja keras bangkit dari bencana 2 tahun sebelumnya yang turut menghancurkan empat stadion untuk Piala Dunia. Alhasil, koran-koran lokal Chile membalas dengan narasi yang membakar amarah publik sekaligus mengubah pertandingan sepak bola tersebut menjadi urusan harga diri negara.
2. Pemain Italia, Giorgio Ferrini, langsung diusir wasit keluar lapangan pada menit keempat
Meski duo jurnalis Antonio Ghirelli dan Corrado Pizzinelli akhirnya dideportasi, api sudah telanjur membara. Nuansa permusuhan langsung terasa begitu kedua tim memasuki lapangan. Dilansir These Football Times, wasit asal Inggris yang memimpin laga, Kenneth Aston, harus meniup peluit pelanggaran pertama saat pertandingan baru berjalan 12 detik.
Hanya dalam waktu 4 menit, gelandang Italia, Giorgio Ferrini, langsung diusir setelah melakukan pelanggaran keras terhadap penyerang Chile, Honorino Landa. Ferrini menolak meninggalkan lapangan dan merespons dengan emosi meluap-luap. Polisi Chile terpaksa harus turun tangan untuk menyeret pemain Torino tersebut keluar lapangan.
3. Italia sudah bermain dengan sembilan orang bahkan sebelum babak pertama selesai
Tensi pertandingan makin tidak terkendali. Saat wasit sibuk mengusir Ferrini, pemain Chile lainnya, Leonel Sanchez, melepaskan pukulan hook kiri yang mematahkan hidung penyerang Italia, Humberto Maschio. Namun, wasit dan hakim garis melihat insiden tersebut tak menindak aksi Sanchez.
Pada menit ke-38, Sanchez kembali berulah dengan menampar bek kanan Italia, Mario David, tapi lagi-lagi tanpa sanksi. Tak terima, David melakukan aksi balas dendam dengan melepas tendangan yang tepat mengenai leher Leonel Sanchez pada menit ke-41. David langsung diusir keluar lapangan oleh wasit, membuat Italia bermain dengan hanya sembilan orang sebelum babak pertama usai.
4. Waisit beberapa kali melibatkan polisi untuk melerai keributan yang melibatkan pemain kedua tim
Babak kedua berubah menjadi tontonan penuh kekerasan. Tiap ada perebutan bola, yang terjadi bukanlah duel taktis. Pemain kedua tim melayangkan tendangan, sikutan, gulatan, dan ludahan kepada lawan. Bleacher Report bahkan menyebutnya lebih mirip menyaksikan pertandingan rugbi ketimbang sepak bola.
Wasit Kenneth Aston benar-benar kehilangan kendali lantaran para pemain Chile dan Italia terlibat cekcok tiap beberapa menit. Aparat kepolisian Chile harus masuk ke lapangan sebanyak tiga kali sepanjang pertandingan. Tujuannya melerai baku hantam massal yang melibatkan pemain dan staf kedua tim.
5. Battle of Santiago kelak memicu terciptanya sistem kartu kuning dan kartu merah di Piala Dunia 1970
Chile akhirnya memenangi laga dengan skor 2-0 lewat gol Jaime Ramirez dan Jorge Toro. Namun, kemenangan itu ternoda oleh kebrutalan yang tersaji. Saat rekaman pertandingan disiarkan di Inggris beberapa hari kemudian, komentator legendaris BBC, David Coleman, membuka tayangan dengan kalimat ikonis. "Pertandingan yang akan Anda saksikan adalah tontonan sepak bola yang paling bodoh, menjijikkan, dan memalukan dalam sejarah permainan ini." Media massa bahkan menjuluki laga tersebut sebagai Battle of Santiago.
Dilansir Irish Times, Kenneth Aston dalam sebuah wawancara mengaku tak bisa berbuat banyak lantaran suasana pertandingan sudah terlalu kacau. Namun, laga ini kemudian memberinya ide agar wasit lebih tegas, tapi tetap dimengerti para pemain meski berbeda bahasa: kartu kuning dan kartu merah yang terinspirasi lampu lalu lintas. Sistem tersebut akhirnya diterapkan di Piala Dunia 1970.
This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.