BANDAR LAMPUNG, KOMPAS.com - Safari politik mantan presiden RI Joko Widodo atau Jokowi di Provinsi Lampung bersama Partai Solidaritas Indonesia (PSI) menjadi sorotan menjelang Pemilu 2029.
Selama berada di Lampung pada 26-28 Juni 2026, Jokowi menghadiri sejumlah agenda PSI, menerima gelar adat, bertemu masyarakat, menyambangi kegiatan UMKM, hingga bersilaturahmi ke pondok pesantren.
Kehadiran Jokowi di sejumlah agenda PSI dinilai menjadi bagian dari upaya memperkuat citra partai yang kini dipimpin putra bungsunya, Kaesang Pangarep.
Namun, pengamat politik menilai popularitas Jokowi belum tentu otomatis mengerek suara PSI pada Pemilu 2029.
Safari Jokowi Dinilai Uji Popularitas dan Loyalitas Pendukung
Pengamat politik sekaligus dosen Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Lampung, Robi Cahyadi Kurniawan, menilai safari politik Jokowi di Lampung bukan sekadar agenda seremonial.
Menurut Robi, kunjungan itu dapat dibaca sebagai upaya Jokowi mengukur kembali popularitasnya di lapangan sekaligus melihat loyalitas pendukungnya.
“Safari ini menjadi upaya Pak Jokowi untuk mengukur kembali popularitas di lapangan, sekaligus melihat sejauh mana loyalitas pendukungnya dalam konteks keberlanjutan pengaruh politik keluarga,” ujar Robi Cahyadi Kurniawan saat dikonfirmasi, Minggu (28/6/2026).
Robi mengatakan, Lampung memiliki karakter politik yang menarik. Selain memiliki jumlah pemilih asal Jawa yang besar, Lampung juga memiliki masyarakat adat yang masih memegang nilai-nilai tradisional.
"Lampung memiliki karakteristik politik yang menarik karena menjadi salah satu daerah dengan jumlah pemilih asal Jawa yang besar, sekaligus memiliki masyarakat adat Lampung yang masih memegang nilai-nilai tradisional. Penganugerahan gelar adat kepada Jokowi dapat dibaca sebagai upaya membangun kedekatan simbolik dengan masyarakat adat," ujarnya, Sabtu (27/6/2026).
Menurut Robi, secara geografis dan demografis, Lampung menjadi wilayah strategis untuk membangun komunikasi politik.
Gelar Adat Dinilai Tak Otomatis Jadi Dukungan Politik
Dalam kunjungannya, Jokowi menerima gelar adat Baginda Pemuka Bangsa dari lima kerajaan adat Lampung di Kedatun Keagungan, Bandar Lampung, Sabtu (27/6/2026).
Robi menilai penganugerahan gelar adat itu tidak bisa langsung dimaknai sebagai instrumen elektoral.
Menurut dia, gelar adat harus dilihat sebagai bagian dari tradisi masyarakat Lampung, khususnya adat Sai Batin, dalam memberikan penghormatan kepada tamu kehormatan.
“Gelar adat itu bersifat seremonial dan merupakan bentuk penghormatan. Dalam tradisi Sai Batin, hal tersebut lumrah dan tidak berkaitan langsung dengan konversi dukungan politik, khususnya pemilih pemula,” jelasnya.
Robi juga menyebut antusiasme masyarakat yang hadir dalam sejumlah agenda Jokowi belum tentu menjadi tanda dukungan politik kepada PSI.
"Antusiasme masyarakat lebih mencerminkan rasa ingin tahu terhadap sosok mantan presiden yang datang ke daerah mereka. Itu belum tentu menjadi indikator pilihan politik pada pemilu mendatang," pungkasnya.
Jokowi Dinilai Bisa Bantu Branding PSI
Robi mengatakan, kehadiran Jokowi dalam agenda Rakorda PSI dapat dilihat sebagai bagian dari strategi memperkenalkan PSI di daerah.
Menurut dia, PSI masih tergolong partai baru dan pada Pemilu 2024 belum mampu menembus ambang batas parlemen.
"PSI merupakan partai yang relatif baru. Pada Pemilu 2024 perolehan suaranya belum mampu melampaui ambang batas parlemen. Karena itu, kehadiran Jokowi bisa dipandang sebagai bagian dari strategi branding agar PSI lebih dikenal masyarakat, termasuk di Lampung," katanya.
Meski demikian, Robi menilai efek Jokowi terhadap suara PSI tidak bisa dianggap otomatis.
"Popularitas Jokowi belum tentu memberikan efek elektoral yang signifikan terhadap PSI. Saat Jokowi masih menjabat Presiden pun, PSI tetap belum mampu menembus parliamentary threshold," ujarnya.
Ia juga menegaskan, basis pendukung Jokowi pada Pilpres 2014 dan 2019 tidak dapat serta-merta dipindahkan menjadi dukungan untuk PSI.
“Tidak bisa langsung dipindahkan. Saat ini Pak Jokowi sudah tidak memiliki instrumen kekuasaan formal, sehingga pengaruh politiknya dalam mendorong PSI menjadi partai besar juga terbatas,” ujarnya.
Ceruk Suara PDIP Bisa Diperebutkan
Robi menilai hubungan politik Jokowi dan PDI Perjuangan yang semakin renggang sejak Pemilu 2024 ikut mewarnai kunjungan tersebut.
Menurutnya, kondisi itu terlihat dari minimnya keterlibatan tokoh-tokoh PDIP dalam penyambutan Jokowi selama berada di Lampung.
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app